Tragedi Tanggal Ulang Tahun

Berseragam putih biru, mengenakan kerudung putih yang melapisi tubuh sampai dada. Sepatu hitam yang mengkilap. Kini ia siap untuk berangkat menuju gerbang masa depan. Dengan segenap semangat, ia berjalan menuju bangunan besar tempatnya menyongsong masa depan. Senyum tak lupa diukirnya. Langkah kaki beriringan denghan ayunan tangan. Suara yang dihasilkan dari sepatu seiring menapak tanah, menjadi simfoni pengantaran ia menuju sekolah.
Tak butuh lama, ia sampai. Saling menyapa, sudah menjadi kebiasaanya jika bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya. Senyum, sapa, sangat ramah. Tibalah ia di kelasnya, ia hampiri tempat duduknya. Dengan nyamannya kemudian ia duduk. Masih bercengkerama bersama sahabatnya. Ada hal ganjil, saat ia mulai mengajak berbicara teman-teman kelasnya. Mereka lebih bersikap dingin padanya. “Mereka kenapa? Apa yang salah denganku?” pikir gadis itu. Tak peduli. Hingga suasana dingin itu dihampiri suara bel pertanda jam pelajaran sudah dimulai.
“Berdiri!” perintah Aldo, si ketua murid. Dan murid di kelas itu pun berdiri menghadap guru yang akan mengajar mereka di jam ini. Beri salam!” perintahnya lagi. Semua murid mengikutinya. “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh.” Terdengar kekompakan saat pengucapan salam. Sang guru menjawabnya. “Duduk!” Aldo mempersilahkan teman-teman seangkatannya untuk duduk kembali di tempat masing-masing. Dan, suasana belajar pun dimulai.

Empat jam kegiatan KBM sudah dilalui. Terdengar deringan bel pertanda memasuki jam istirahat. Sesaat, suasana menjadi ramai dengan suara buku, decitan kursi dan beberapa suara murid. Sang guru mohon pamit , dan keluar kelas. Murid-murid berhamburan keluar kelas. Jika dilihat akan seperti pasukan semut yang keluar dari sarangnya untuk mencari makan.
Gadis itu, tak seperti teman-temannya. Ia duduk merenung sendirian. Sahabatnya, Melia, melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan sahabatnya itu. Melia memulai pembicaraan.
“Hey, kenapa? Kok murung gitu sih?” tanya Melia.
“Apa? Enggak kok, aku enggak apa-apa” jawab malas Vika.
“Masa sih? Kalo enggak ada apa-apa, kenapa kamu murung gitu?” tanya Melia meyakinkan. “Ayolah, cerita dong!” paksa Melia. Dan , Vika pun angkat suara. “Hem, kamu merasa aneh enggak sih dengan sikap temen-temen di kelas ini yang sedikit dingin sama aku?” heran Vika.
“Oh ya? Aku enggak merasa begitu.”
“Itu kan kamu! Anehnya, teman-teman bersikap dingin cuman sama aku. Aku perhatiin ke yang lain enggak gitu kok.”
“Memangnya, kenapa kamu berpikiran gitu?”
“Tadi, aku kan bertanya ke Cici. Kamu tau kan Cici kaya gimana? Tiba-tiba aja, dia berubah drastis gitu. Jadi cuek banget sama aku.”
“Mungkin, dia lagi sebel kali sama kamu?”
“Bisa jadi. Tapi karena apa coba? Toh, kemarin aku sama Cici masih baik-baik aja kok. Malahan, aku sempet nganterin dia ke toko.”
“Ngapain ke toko?”
“Katanya sih, mau beli sesuatu buat yang lagi ulang tahun.”
“Ya udah, kenapa kamu gak tanya ke Cici aja langsung?”
“Enggak ah. Lagipula ini aneh. Bukan cuma Cici, Mel. Tapi yang lain juga! Masa aku tanya satu-satu?”
“Ya udahlah, kita bisa urus ini nanti. Eh, aku mau ke kantin nih. Mau ikut?” tawar Melia.
“Ikut-ikut!” seru Vika.
Mereka pun pergi ke kantin sekedar membeli cemilan makan siang. Mereka makan disana. Beberapa menit kemudian, bel masuk pun kembali berdering. Semua siswa yang tersebar di segala penjuru sekolah, memasuki kelasnya masing-masing. Jam pelajaran kembali dimulai.
Gadis itu, yang diberi sikap dingin oleh teman-teman kelasnya. Kehilangan gairahnya. Ia memang tetap mengikuti KBM dengan baik, namun sedikit kehilangan mood. Ia melirik teman-temannya yang saling bercengkerama. “Kenapa aku dicuekin sih? Emang aku salah apa sama mereka? Yang normal hanya Melia aja.” batinnya. Kemudian, ia menerawang. Memikirkan kesalahan apa yang telah ia perbuat, sehingga teman-temannya bersikap dingin padanya. “Huh, masih normal aja kok!” keluh batinnya, sesudah ia menerawang jauh kejadian-kejadian tempo hari. Dan, memang tidak ada kesalahan menurutnya. Sikapnya ini, tertangkap mata sang guru. Guru yang sedang mengajar itu pun memanggil namanya. Gadis itu hanya tersenyum malu. Teman-temannya menatap dengan penuh kebencian.
Inginnya ia teriak, sambil mengatakan apa kesalahannya sampai-sampai membuat teman-temannya berbuat seperti ini. Namun, mustahil ia lakukan. Ia tak ingin dikeluarkan dari kelas karena kekonyolannya itu mengganggu ketenangan KBM.

Suasana dingin itu, dirasa telah berakhir tepat ketika telinganya mendengar bunyi bel pulang. Ia membereskan alat-alat belajarnya. Dimasukkannya ke dalam tas. “Tinggal duduk manis. Dan semuanya akan selesai. Sabar. Sabar.” gumamnya, sambil menghela nafas berat. Ketua murid membubarkan kelas, dan murid pun berhamburan. Gadis itu dengan cepat keluar kelas. Ia tidak memperdulikan Melia, sahabatnya yang memanggil namanya. Ambisinya untuk sesegera mungkin sampai di rumah sangat besar. Jalannya sedikit tergesa. Anehnya, teman-teman kelasnya mengikutinya dari belakang. Sadar, ia sedang diikuti. Ia pun berbalik, menghadap teman-temannya. Mereka hanya diam, dengan ekspresi sedikit terkejut. Gadis itu kembali meneruskan jalannya untuk pulang. Tetapi, karena teman-temannya masih saja membuntutinya, ia kembali berbalik. Kali ini, ia angkat bicara.
“Apa sih yang kalian mau? Kalian marah sama aku? Kalian mau nya apa? Kenapa kalian membuntuti aku?” luapan emosi ia kerahkan. Melihat gadis itu menangis, akhirnya mereka pun tertawa terbahak. Ekspresi bingung dan terkejut ditampilkan gadis itu. Cici, teman dekatnya menghampiri gadis itu.
“Vika, kamu jangan marah dong! Kami semua enggak marah kok sama kamu. Kami semua sengaja menyusun rencana ini. Karena….. “ ucap Melia yang terputus.
“Selamat ulang tahun!!!!!!!” serempak teman-teman mengucapkannya secara bersamaan. Mereka mengeluarkan atribut yang identik dengan perayaan ulang tahun. Mimik wajah Vika menjadi berubah. Yang semula bingung, kini matanya mulai berkaca. Wajahnya pun memerah.
“Eh, Vika! Udah, enggak usah nangis. Kami sengaja merayakan ulang tahun kamu, sebagai penghargaan karena kamu berhasil menjadi murid teladan sekolah kita tahun ini!” ujar Cici senang.
“Hari ini ulang tahunku?” tanya Vika. “Ya iyalah! Kamu enggak inget? Hahaha. Sudahlah Vika, jangan-jangan karena kamu mikirin sikap kita yang dingin ke kamu tadi, kamu jadi lupa sama ulang tahun sendiri?” ujar Aldo. Kemudian, diiringi dengan suara tawa yang bersamaan. Vika menangis. Ia menangis sejadi-jadinya. Tak berpikir panjang, ia pun berlari menjauhi kerumunan teman-teman yang merayakan ulang tahunnya. Sontak saja, mereka bingung akan sikap Vika yang sekaligus mengecewakan. Haruskah ia meninggalkan teman-teman yang sayang padanya, yang merayakan hari ulang tahunnya tanpa ucapan terima kasih?
Melia, yang melihat kejadian itu, sebagai seorang sahabat tentulah ini menjadi hal yang aneh. Bukan hanya bagi dirinya, namun yang lain pula. “Eh, Vika kenapa?” tanya salah satu dari mereka. “Iya, yah. Bukannya terima kasih, malahan kabur gitu aja?” ucap Talia. Dan teman-teman yang lain mengiyakan ucapan Talia. “Sepertinya, ada yang aneh. Ekspresi yang diberikan Vika juga beda. Ada apa ini?” pikir Melia.
Melia pun merencanakan sesuatu, ia mengajak teman-teman kelasnya untuk berkunjung ke rumah Vika. Ia menjelaskan, Vika tak mungkin orang yang seperti itu. Tak tau terima kasih. Pasti ada sesuatu yang salah dengannya hari ini. Teman-teman yang lain pun menyetujuinya.
Mereka berangkat bersama, masih membawa hadiah untuk Vika. Melia mengetuk pintu rumah Vika. Pintu terbuka, terlihatlah seorang wanita cantik meski menginjak usia 40, ibu dari Vika. “Eh, Melia. Silahkan masuk. Wah, ada yang lain juga. Silahkan, masuk masuk!” ujar ibu Vika ramah. “Terima kasih tante” ujar Melia dan yang lainnya. Mereka pun masuk.
Ngomong-ngomong ada apa nih, tumben kalian kesini?” tanya ibu Vika. “Kami, kesini mau memberi ini kepada Vika.” Jawab Melia sambil menyodorkan hadiah. Hadiah?” tanya ibu Vika heran. “Iya, Bu. Hari ini kan ulang tahunnya Vika.” Ucap yang lain. Ibu Vika hanya mengangguk. “Terima kasih, atas hadiahnya. Ehm, apa kalian sudah mengatakan ini sebelumnya pada Vika di sekolah?” tanya ibu Vika khawatir. Yang lain mengangguk. “Vika dimana , tante?” tanya Boby. “Di kamar. Ehm, tante mohon maaf ya. Kalau Vika bersikap tidak sopan sama kalian. Tapi, kalau bisa kalian jangan merayakan ulang tahun Vika. Tante mohon.”
Loh, memangnya kenapa tante?” tanya Aldo heran. Ibu Vika menghampiri kamar Vika, ia mendapat Vika seang tertidur. Lalu ia pun kembali duduk, ia menjawab pertanyaan yang pasti bukan saja ditanyakan oleh Aldo tetapi yang lain juga.
“Vika, dia memiliki trauma di hari ulang tahunnya. Ayahnya, almarhum meninggal pada saat ualng tahunnya.” Ibu Vika sejenak menghentikan pembicaraannya. Sontak, pendengar pun merasa terkejut. Dan ekspresi yang mereka tunjukkan, seolah mengisyaratkan bahwa mereka mengatakan ‘Benarkah?’. Ibu Vika kembali meneruskan pembicaraannya. Setiap kalimat yang diucapkan ibu Vika, membaw Melia dan yang lain seolah melihat langsung kronologis kejadian disaat ayah Vika meninggal.
Flashback on…..
“Bu, ayah mana? Kenapa ayah belum juga pulang?” tanya Vika kecil.
“Tunggu ya sayang, ayah pasti akan datang kok!” jawab ibu Vika lembut. Tiba-tiba nada dering ponsel ibu Vika berbunyi. Dan penelepon adalah ayah Vika! Langsung ibu Vika menjawab telponnya.
“Halo” ujar ibu Vika mengawali pembicaraan di telpon.
“Assalamu’alaikum, Bu!” jawab yang diseberang.
“Wa’alaikumussalam. Ayah? Ayah gimana kabar?”
Alhamdulillah baik, Bu. Vika mana?” tanya ayah.
“Ada disini.” Ibu menjauhkan ponsel dari telinganya dan berbicara dengan Vika. “Ini dari ayah!” bisik ibu. “Wah, Vika pingin ngobrol sama ayah, Bu!” ujar Vika. Ibu Vika memberikan ponselnya kepada Vika.
“Halo, ayah?”
“Vika!!!”
“Ayah! Ayah lagi dimana? Cepet pulang! Besok kan hari ulang tahun Vika.”
“Iya, ayah ingat Vika. Ayah juga bawa hadiah spesial buat Vika.”
“Oh ya? Apa itu? Kasih tau dong!”
“Eits, nanti dong! Kalau ayah udah pulang.”
“Memangnya kapan ayah pulang? Besok kan?”
“Iyaa, Vika.”
“Asyik, jangan terlambat ya ayah. Vika tunggu!”
“Insya Allah. Vika, tolong beri ponselnya ke ibu ya. Ayah mau bicara sama ibu.”
“Yah, ya udah deh. Ibu, ayah pingin ngobrol sama ibu. Nih!”
“Hem, terima kasih sayang. Ya ayah?”

Keesokan harinya…..
“Selamat ulang tahun Vika!!!”
“Terima kasih ibu.”
“Ini hadiah buat Vika dari ibu. Dan, ini dari ayah”
“Wah, terima kasih ibu. Dari ayah? Tapi…. kenapa bukan ayah yang ngasih langsung ke Vika? Katanya ayah pulang hari ini?”
“Maaf sayang, ayah enggak bisa pulang hari ini.”
“Ih, ayah bohong. Loh, kenapa mata ibu sembab? Ibu nangis?”
“Apa? Oh ya? Oh ini, ini karena ibu senang Vika ulang tahun.”
“Kenapa harus nangis?”
“Kan tangisannya, tangisan kebahagiaan sayang.”
“Oh, gitu. Ya udah, kalo gitu Vika pingin ngobrol sama ayah. Mana ponsel ibu?”
“Jangan Vika! Ayah lagi sibuk. Gak boleh diganggu.”
“Yah, padahal Vika pingin denger ayah ngucapin selamat ulang tahun buat Vika”
“Ehm… Vika masih bisa mendengar ayah mengucapkan selamat ulang tahun untuk Vika kok.”
“Benarkah? Vika ingin dengar!” ibu pun memberikan ponselnya, memutar putaran rekaman suara ayah Vika. Vika terlihat sangat bersemangat. Ia mendengarkan dengan seksama suara ayahnya. Sayangnya, hanya beberapa kalimat yang ayah Vika ucapkan. “Vika, selamat ulang tahun. Maaf, ayah enggak bisa pulang dan mengajak Vika jalan-jalan. Sekali lagi selamat ulang tahun anak semata wayangku. Semoga, kau selalu menjadi anak yang baik. Ayah mencintaimu, Nak.”
Vika, anak berusia 5 tahun selesai mendengar rekaman itu. Raut wajahnya menjadi bingung. “Ibu, tadi ayah bilang apa sih? Vika enggak ngerti. Terus kenapa ayah ngomongnya kaya orang sakit?” tanya Vika, namun ibunya hanya diam. “Ibu!” panggil Vika membuyarkan lamunan ibunya. “Iya? Oh, ini. Bukan kaya orang sakit. Ayah sama seperti ibu, tangisan kebahagiaan.” Vika hanya mengangguk.

Saat sore…..
“Vika, kemari. Ada yang ingin ibu bicarakan.”
“Apa ibu?”
“Sebenarnya ayah enggak akan pulang.”
“Ha? Kok gitu sih bu? Emang ayah sibuk banget, sampai-sampai enggak sempet pulang?”
“Bukan gitu sayang….. sebenarnya ayah, dia udah enggak ada.”
“Maksud ibu apa?”
“Ayahmu sudah meninggal, Vika”
“Meninggal? Mati?” ibu mengangguk masih dengan menunduk. “Ayah… ayah meninggal? Tapi kan bu, ayahnya udah janji ke Vika mau pulang. Mau ngajak Vika jalan-jalan. Ayah bilang pulang hari ini. Ayah pasti lagi buat kejutan buat Vika kan? Haha, ayah bodoh banget. Buat kejutan tapi udah ketauan duluan. Haha.” Ujar Vika kecil sambil berusaha menghibur diri.
“Enggak sayang, ayahmu sudah enggak ada. Rekaman selamat ulang tahun tadi pagi itu, kata-kata terakhir ayah buat kamu. Ayah bilang itu ketika kecelakaan di jalan. Ayah kecelakaan tadi pagi, sesudah shalat subuh. Ayah ingat sama kamu, sayang. Kamu benar Vika, suara ayah yang merintih itu karena sedang kesakitan.”
“Ayah kecelakaan karena apa ibu?”
“Ayahmu, kecelakaan karena tertabrak truk dan , mobilnya terguling dan ayah tertindih mobilnya sendiri.” Ucap ibu sambil menahan tangisan. Vika menjauh dari pelukan ibunya. Tangisan ia keluarkan, kepalanya menggeleng. Seolah tidak percaya atas yang dikatakan ibunya. Ia berbalik, dan berusaha berlari. Namun, sudah ada pamannya yang memeluknya dari belakang.
“Paman? Paman! Aku enggak sayang ibu! Ibu bohong! Paman, masa ibu bilang ayah udah meninggal. Itu boong kan?” rintih Vika. Tak ada jawaban dari pamannya. Paman Vika hanya memeluk Vika, selalu erat. Sedangkan ibu Vika sudah pingsan, tak kuat menahan semua ini. Vika, dia menangis sejadi-jadinya. Rengekan anak kecil jelas terdengar.
Ibu Vika, kini resmi menjadi seorang janda. Sedangkan Vika, hari ini juga ia resmi menjadi seorang anak yatim. Anak yatim, ya anak yatim. Sebuah gelar yang sangat tidak diinginkan oleh manusia manapun. Namun, takdir mengatakan lain. Takdir sudah diatur oleh-Nya.
Flashback off…
Tetesan air mata mengalir begitu saja, tak mampu berbohong ibu Vika terus saja menangis. Melia dan teman-teman lain turut terbawa suasana, mereka menangis. Dibalik itu, Vika yang mendengar dari balik pintu kamarnya. Langsung mendobrak pintunya, berteriak kepada yang ada disana.
“Sekarang, kalian puas?!” yang ada disana, melirik ke arah Vika. Melia, ia menghampiri Vika memeluknya dengan penuh kesayangan seorang sahabat. Vika berusaha untuk melepas pelukan Melia, namun tak cukup daya. Beban yang dipikulnya sudah cukup dikeluarkan dengan ratusan tetesan air mata. Bersender dalam pelukan sahabat. Teman-teman yang lain melihat dan ikut memeluk Vika. Mereka menangis bersama. Seolah sebuah kebersamaan sebagai keluarga sangat erat.
“Vika, kita akan selalu menyayangi kamu.” Ucap Melia menangis, dan dibenarkan oleh teman-teman lain. “Terima kasih” bisik Vika. Spontan, teman-temannya menangis yang semakin menjadi. Ibu Vika yang melihat fenomena itu, meneteskan air mata. Ia terus memandang anaknya, Vika yang mendapat kasih sayang yang begitu berarti dari teman-teman dikelasnya.
“Vika, kamu anak semata wayang ibu. Suatu saat kelak, kamu akan menjadi wanita hebat. Jadilah, yang terbaik nak.” Batin ibu.

The end…..
Karya : Difa Ameliora Pujayanti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: