Secret Admirer…..

Aku sedang melamun sekarang, ku nikmati pagi indah ini dengan sejuta cinta dalam kandungan hamparan alam putih. Udara dingin lagi merasuki hidungku. Sepoian angin, bongkahan salju kecil yang jatuh dari genting, suara aliran air, kicauan burung yang hilir mudik, dan…… suara detakan jantung dan hembusan nafasku menambah keharmonisan simponi musim dingin.
Telapak tangan ini kembali merasakan kasar permukaan kertas. Apa yang ku sentuh? Lagi lagi, bunga ini. Ada sepucuk surat disana. Berwarna biru. Dan ada tulisannya!

Selamat pagi bunga matahari,
Jika kau membaca ini,itu berarti kau sudah melihat kirimanku yang ke-51 kali nya. Entah mengapa aku begitu menikmati semua ini, mengirimimu surat, setangkai bunga matahari,dan tentunya lambang hati yang tertera di bawahnya. Aku tau kau pasti merasa risih dengan semua yang telah aku lakukan. Tetapi, percayalah aku melakukan semua ini , karena aku ingin. Bunga matahariku, aku senang bila kau masih sehat. Aku senang bila kau masih mau membaca surat demi surat yang kukirim untukmu. Bunga mataharinya apa kau masih menyimpannya? Rawatlah ia! Jangan untukku, melainkan demi kehidupan bunga matahari itu. Ia pun ingin hidup. Aku tata bunga itu, meskipun tak seindah dirimu.
Your secret admirer,
NN

Ya, itulah dia pengagum rahasiaku yang bahkan sampai sekarang aku pun tak mengetahuinya. Ia telah mengirimkan surat dan bunga sebanyak 51 kali dalam satu tahun ini. Aku pernah berniat untuk meneliti siapa pengagum rahasiaku itu. Tetapi, entahlah setiap aku ingin melakukannya, pengagum rahasia yang berinisial ‘NN’ itu selalu saja melarangnya. Jadi, aku biarkan ia melakukannya. Lagipula itupun haknya. Yang membuat aku bingung adalah mengapa dia begitu tergila-gila padaku?

‘Maaf bunda, Delyona enggak bisa pulang ke Indonesia akhir tahun ini. Ada badai salju di seluruh Britania Raya. Pihak bandara bilang, untuk 2 hari ke depan jadwal penerbangan di cancel sementara” balas e-mailku. Hanya beberapa detik, aku pun menerima balasan e-mail dari bundaku. ‘Badai? Apa besar? Jaga diri kakak yah! Jangan keluar apartement dulu.’ jawab bundaku. Aku pun langsung mereply e-mail tersebut. ‘Iya bunda. insyaAllah kakak lakukan apa yang bunda bilang.’ Kutekan enter dan e-mail pun terkirim. Setelah beberapa menit kutunggu balasan dari bundaku, dan nyatanya tidak ada jawaban, aku meng-off-kan laptopku.
Kusimpan laptop ini ke meja kerjaku, kusimpan kembali pakaian yang tadinya hendak kubawa untuk berlibur ke Indonesia di lemari berwarna coklatku. Kusimpan pula travel bag ini, dan kurapihkan kembali beberapa barang yang berhubungan dengan pulang kampung.
Aku rebahkan tubuhku di ranjang ini, kutarik selimut dan kututupi raga ini. Huh, dingin sekali hari ini. Kulirik jam di dinding, masih pukul 09.00 pagi. Tapi, karena salju sedang turun dengan lebatnya, membuat suasana pagi yang biasanya cerah ini menjadi gelap bak saat dini hari. Aku pun menyalakan AC, kupilih tombol ‘warm’ untuk menghangatkan diri. “Ha~ lebih baik” ujarku. Terima kasih ya Allah, hangat sekali. Inginnya aku tertidur, tetapi jujur saja aku tak bisa. Ayolah, ini masih jam 9 pagi. Tiba-tiba saja aku langsung teringat dengan pengagum rahasiaku itu. Apa dia tetap mengirimkan surat dan bunga disaat salju sedang turun selebat ini? ‘Tak mungkin’ pikirku. Kuangkat bahuku, seolah melambangkan ketidakpedulian.
Tetapi, oh suksesnya pengagum rahasiaku yang berinisial ‘NN’ itu. Kakiku tetap saja menyentuh lantai berjalan menuju jendela apartement-ku. Kubuka jendela, dan betapa terkejutnya aku melihat kiriman pengagum rahasiaku itu. Bedanya kali ini dia mengirimkan secangkir susu coklat hangat dan paket sarapan. Tentunya selain sepucuk surat dan setangkai bunga matahari. “Orang itu…..” gumamku pelan. Kuambil pemberian pengagum rahasiaku itu.
Tangan ini meletakkan secangkir susu coklat, paket sarapan, bunga dan surat itu di meja depan sofaku. Kulihat susu coklatnya masih beruap dan hangat bila disentuh cangkirnya. Itu berarti, semua ini masih baru. Tak segan ku langsung membuka paket sarapan itu. Dan isinya adalah……. satu buah chocolate croissant, satu buah cheese croissant, satu buah burger daging sapi, satu buah apel dan satu buah strawberry. Ok, sepertinya aku pun kagum padanya. Senekat itukah dia, sampai-sampai ketika badai salju pun ia tetap melakukan ini? Mulutku sedikit menganga. Dengan semua pemberian ini, apakah terlihat berlebihan jika aku mengatakan ‘wow’ ? aku rasa tidak. Orang itu benar-benar nekat! Sekagum itukah ia padaku? Siapa dia? Aku hanya gadis Indonesia yang datang kesini hanya untuk meminta ilmu. Bukan untuk dikagumi. Apa ia pria yang kukenal? Apa kebangsaannya? Jika boleh diakui, itulah rentetan pertanyaan yang selalu menari-nari di kepalaku.
Mulanya aku takut mengonsumsi makanan itu, tetapi karena kebetulan aku pun hanya sarapan dengan sandwich dan milkshake, tergodalah aku. Tak terlalu lahap aku memakan paket sarapan itu, tapi sangat lahap! “Ehm~ makanan ini enak banget! Apa dia yang buat? Kenapa pria bisa membuat makanan seenak ini? Apa dia seorang koki?” ujarku. Tak lupa ku berdo’a sebelumnya. Makanan utama pun sudah kusantap, tiba untuk makan dessertnya. Ada 1 buah apel. Ya, aku berdo’a sebelum makan apel itu. Aku tak mau seperti Putri Salju atau nama kerennya ‘Snow White’ yang tertidur karena memakan apel pemberian orang asing. Hey, dia pengagum rahasiaku bukan? Itu berarti aku tidak mengenalnya, yang sama saja bahwa dia orang asing bagiku.

Sore ini masih sama seperti pagi tadi, salju masih turun. Bedanya, tak selebat pagi tadi. Hanya butiran kecil. Pandanganku masih menerawang jauh, entah mengapa aku masih saja memikirkan pengagum rahasiaku itu. ‘Huh, bodoh sekali. Untuk apa aku memikirkan dia?’ gema hatiku. Aku pun mengambil mantel tebal berbulu yang tergantung di lemari, aku berniat untuk sekedar jalan-jalan sore ini. Bosan, terus diam didalam apartement.
Kuhembuskan nafas sore, ya masih segar tapi dingin. Ah, konyolnya aku, ini kan musim dingin. “Yah, kursi nya ketutup salju” keluhku. Terpaksa, aku tak bisa duduk. Tak apa bukan itu yang aku cari. Aku berkeliling taman ini, oh musim dingin aku sangat menyukai musim ini. Inilah musim yang aku nanti-nantikan selama hidupku. Bulan ini adalah bulan pertama aku bisa merasakan musim dingin. Lembutnya salju putih, dinginnya oksigen, dan uap yang keluar dari mulutku, itu lah yang aku suka. Bahkan disaat aku menggesekkan kedua telapak tanganku kemudian menempelkannya di kedua pipiku adalah kebiasaan yang sangat aku suka. Di negeriku Indonesia, belum pernah aku merasakan ini. “Ayah, bunda, adikku, andai kalian bisa berlibur kesini. Kalian akan merasakan kehangatan di tengah salju. Tentunya jika kita bersama” gumamku sembari tersenyum.
Tudung jingga yang menutupi aurat atasku, yang disebut ‘kerudung’ ini melindungiku dari dinginnya salju. Tinggal di negeri orang dimana penduduknya yang beragama Islam yang minoritas, justru membuat aku bangga. Karena disini, aku bisa tampil beda diantara manusia-manusia lain. Dan aku suka tampil beda. Itulah aku. Lagi, senyum yang terlihat diwajahku sekarang, aku menengadahkan kepala menghadap angkasa sambil mengatakan “Aku cinta diriku”.

“Hoam, selamat pagi dunia! Apa aku masih hidup?” seruku menyambut pagi, aku meraba tubuhku. “Terima kasih Ya Allah, di awal tahun baru ini Kau masih memberiku nyawa di dunia ini” ku tersenyum. Ku tegakkan badan, pergi ke kamar mandi untuk berkaca dan tentunya berwudhu. Tak lupa menggosok gigi, aku tak mau mulutku beraroma tak sedap saat sedang menyembah-Nya.
Salam mengakhiri shalat subuhku, aku berdzikir sejenak dan berdo’a. Awal dari do’aku diawali dengan membaca basmallah dan shalawat. Lalu kuteruskan dengan membaca do’a untuk kedua orang tuaku. Seterusnya aku berdo’a dengan menggunakan bahasa Indonesia.
“Ya Allah, sesugguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, kehidupan duniaku, keluargaku, hartaku dan ilmuku. Ya Allah tutuplah aurat aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang lain dan berilah ketentraman di hatiku. Ya Allah, peliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan, kiri, dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu agar aku tidak mendapat bahaya dari bawahku. Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, telah lalu hukum-Mu atasku, adil ketetapan-Mu atasku, aku memohon kepada-Mu dengan perantara semua nama milik-Mu yang Engkau namakan sendiri, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan seseorang dari hamba-Mu, atau Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai penawar hatiku, cahaya dalam dadaku, penghapus dukaku, dan pengusir keluh kesahku. Aamiin”
Itulah sepenggal dari do’a yang selalu kupanjatkan sehari-hari selama aku tinggal untuk kuliah di Universitas Oxford, Inggris. Selesaiku dengan urusanku, kulipat dengan lembutnya dan kusimpan ke tempatnya kembali mukenaku. Lanjutku dengan menyiapkan secangkir susu coklat panas. Cerobohnya aku, tak sengaja terkena tumpahan air panasnya. “Aw!” jeritku kepanasan. Sebaiknya aku simpan dulu disini. “Sambil tunggu susu nya mendingin, aku bereskan dulu tempat tidurku”. Aku pun bersemangat untuk membereskan tempat tidurku. Ketika membereskannya, aku bersenandung pelan.
“Ok, sudah beres!” ucapku. Ku menoleh ke arah jendela, “Ya ampun, aku belum membuka gordengnya! Bagaimana aku bisa lupa?! Huh, Delyona Delyona” ujarku menggerutu pada diriku sendiri. Kubuka gordengnya, cahaya matahari masih kecil disana. Pantas saja, ini masih pukul 5 pagi. Saat aku berniat untuk membuka jendela sekedar menghirup udara segar tahun baru, angin dingin menghempaskan dirinya sendiri terlebih dahulu padaku. Brr,dingin. Kembali aku mengenakan mantel tebalku. Ku ambil cangkir susu panasku, ku berjalan menuju jendela. Ada aura tersendiri yang membuatku ingin duduk disana, menikmati pagi sambil menjadi saksi munculnya cahaya matahari tahun baru yang lebih cemerlang lagi.
Benar saja, sesuai dugaanku, ada sepucuk surat dan setangkai bunga matahari tersimpan manis di alas jendelaku yang berfungsi untuk duduk. Bedanya lagi, ada sebuah kotak yang menemaninya. Ku duduk dan kubuka surat itu, kubaca dengan suara yang tak lantang.
“Selamat pagi dan selamat tahun baru bunga matahariku,
Apa kabarmu hari ini? Aku harap kau kan baik-baik saja untuk setahun penuh” haha, aku sedikit cekikikan membaca surat ini. Dia bilang sehat setahun penuh? Aku harap. Lalu kulanjutkan kembali membaca surat itu masih dengan suara yang tak lantang.
“Kau tau? Aku selalu mendo’akanmu. Aku selalu berdo’a agar kau sehat, dan tetap menjadi dirimu sendiri. Aku ingin berbagi sedikit cerita padamu. Semalam, aku berniat untuk menampakan diriku di hadapanmu. Sebenarnya aku pun lelah terus-menerus bersembunyi darimu. Tetapi, aku tak cukup berani untuk melakukan itu semua. Ya, mungkin kau akan berpendapat bahwa aku pria yang konyol dan tidak jantan. Aku ingin merayakan tahun baru bersamamu. Aku bahkan sudah menyiapkan makan malam yang ditata sedemikian rupa, itu semua semata-mata agar aku bisa menghabiskan malam tahun baru yang ditemani butiran salju bersamamu. Tetapi, aku pun tau diri. Kau pastinya tak akan mau menerima tawaranku. Kau sangat menjaga dirimu sebagai seorang muslim. Aku menghargai itu, meskipun sakit. Aku rela melakukan apapun untukmu. Jadilah aku merayakan malam itu seorang diri. Meskipun sejatinya ada teman-temanku pada saat malam pergantian tahun baru.
Mungkin, sekarang saatnya aku mengatakan hal yang sebenarnya. Aku, pria berinisial ‘NN’ jatuh hati padamu. Sebenarnya sudah lama aku memiliki perasaan ini padamu. Tepatnya, satu tahun yang lalu. Aku selalu memotret dirimu secara diam-diam. Aku mengumpulkan semua foto-foto itu yang nantinya ingin aku tunjukkan padamu secara langsung saat malam pergantian baru. Tetapi, karena semua itu tak terlaksana, maka aku memberikan ini padamu secara tidak langsung. Kau tau? Menurutku, ekspresi apa pun dan gaya apa pun yang kau miliki. Kau kan selalu terlihat cantik dan manis. Apa kau memegang kotak itu? Kotak yang aku kirimkan? Isinya hanya beberapa foto yang menurutku adalah yang terbaik. Jika boleh jujur, sebenarnya aku menyalin foto yang terdapat dalam kotak itu. Aku tak mau kehilangan foto terbaikmu.
Aku juga ingin memberitaumu, apa alasanku memakai ‘bunga matahari’ sebagai panggilan spesial dariku untukmu. Bagiku, kau adalah makhluk Tuhan yang indah. Kau selalu terlihat cerah, berseri, cantik, dan beraura. Kau wanita yang selalu merendahkan diri. Semua itu layaknya bunga matahari. Lagipula, jika kau dipadukan dengan bunga matahari akan terlihat serasi dan……manis.
Bunga matahari, aku berharap aku masih tetap bisa melihatmu. Secara sembunyi-sembunyi tentunya. Aku benar-benar belum memiliki cukup keberanian untuk menampakkan diriku di matamu. Jadi, biarkan aku mengagumimu. Biarkan aku mencintaimu dalam diam. Biarkan aku merindumu dalam senyap. Biarkan aku memelukmu dalam mimpi. Meski itu sakit.
Semoga kau suka, Bunga Matahariku

Your secret admirer
NN
Tanpa secara sadar, air mataku keluar tanpa aba-aba dariku. Jika boleh jujur, aku terharu dengan perjuangan yang dilakukan pengagum rahasiaku itu. Dia…..hebat. Tanpa basa-basi aku membuka kotak tersebut. Kulihat, ada banyak foto didalamnya. Dia bilang apa? Hanya beberapa foto? Setelah kuhitung ada 28 foto. Apa itu bisa disebut beberapa? Memangnya, berapa banyak foto yang ia simpan?
Ku melihat satu per satu foto itu. Disitu aku melihat potret diriku disaat aku pertama kali masuk universitas, keluar dari apartement-ku, saat makan siang, saat menikmati musim gugur, saat sedang mengerjakan tugas kuliahku, foto surat yang biasa ia berikan padaku, foto bunga matahari, saat aku menaiki bus, saat aku tertawa, tersenyum, berwajah datar, bahkan saat aku tertidur di bus! Dan beberapa foto yang lainnya. Namun, yang membuat aku terkejut adalah, ada salah satu foto dimana aku sedang menikmati musim dingin menjelang tahun baru. Lokasinya pun ditaman dekat apartement-ku. Disitu aku mulai berpikir, “Bukankah itu aku saat sedang di taman kemarin sore?” gumamku. “Jadi, kemarin sore saat aku sedang di taman dia juga ada disana? Kenapa aku tak melihatnya? Di foto ini, sepertinya arah potretannya pun dari arah depanku. Tapi kenapa aku tidak menyadarinya?” lanjutku masih dalam kebingungan.
Aku lihat kembali isi surat tersebut, kubaca kembali kalimat akhir dalam surat itu, “Bunga matahari, aku berharap aku masih tetap bisa melihatmu. Secara sembunyi-sembunyi tentunya. Aku benar-benar belum memiliki cukup keberanian untuk menampakkan diriku di matamu. Jadi, biarkan aku mengagumimu. Biarkan aku mencintaimu dalam diam. Biarkan aku merindumu dalam senyap. Biarkan aku memelukmu dalam mimpi. Meski itu sakit.”
Ku genggam erat bunga matahari itu, saat itu cahaya matahari mulai muncul. Kulirik bunga matahari itu, pikirku untuk mencocokkan dengan bulatnya matahari. Aku tersenyum, bunga matahari ini cantik sekali. Ini adalah bunga matahari tercantik yang pernah ia berikan padaku. Kuturunkan kembali bunga matahari itu, tak ku lepas tetapi lenganku berpangkuan pada pahaku yang tertutup mantel hangat.
Senyumku memudar seketika, kembali aku bergumam. “Pengagum rahasiaku, kenapa kau tak tampakkan dirimu saja semalam? Aku suka bunga matahari ini” senyumku kembali mengembang saat mengatakan ‘Aku suka bunga matahari ini’. Senyumku memudar kembali. Aku pejamkan mataku, lalu kubuka kembali. Kuhembuskan karbondioksidaku, entah mengapa aku pun lelah terus diperlakukan seperti ini.
“Ya Allah, dalam do’aku sewaktu pagi menyambut tahun baru tadi ada yang kurang. Ada secercah harapanku di tahun ini” do’aku sambil menyandarkan kepalaku ke jendela. Seolah jendela ini adalah tempat pangkuanku menanggung bebanku yang terus dijadikan objek pengaguman.
“Ada satu, aku ingin tau siapa pengagum rahasiaku ini” lanjutku. Pandanganku menerawang jauh, biarkan pagi tahun yang baru ini sebagai saksi permohonanku. Biarkan sinar mentari pagi tahun yang baru menjadi saksi kegelisahanku. Biarkan angin ini yang membawa rasa ingin tauku terhadap pengagum rahasiaku itu.
Ku miliki kalimat terakhir , untuk pengagum rahasiaku yang entah siapa dan sedang ada dimana.
“Terima kasih pengagum rahasiaku. Selamat tahun baru”

Selamat Tahun Baru 2014 !!!

Karya : Difa Ameliora Pujayanti
( December, 31 2013 22 : 39 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: