Rabu Berduka

Silebu,

Dahiku memanas, tubuh menggigil. Sakitku semakin berasa. Panas dan dingin bercampur tak karuan. Tergurat wajah khawatir di wajah ibu. Tak lain dengan ayah yang sama khawatirnya. Siang panas menambah panasnya tubuh keringku. Aku tiada daya. Untuk sekedar makan,minum,buang air,bahkan untuk berdiri pun aku kesulitan. Kaki ini selalu lemas. Berbaring ditempat tidur, menjadi lumrah kujalani hari-hari panasku.

Cipasung,

“Anakku, aku ingin bertemu dengan Dian dan keluarganya. Suruh mereka kesini”pinta nenekku pelan. “Ya, tapi bagaimana nanti saja ya,Nek”jawab Iwang anak pertamanya.

Silebu,

“Ibu, aku ingin berdiri”ujarku. “Mau apa? Lebih baik berbaring”ujar ibuku lembut. “Capek  rasanya jika berbaring terus. Main keluar boleh ya. Sekedar menghirup udara bebas. Disini terasa sesak” ujarku lemas sambil memelas. “Ya sudah ibu antar. Tapi,kalo butuh apa-apa panggil ibu ya!”. Aku hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah kata pun. “Eh, tapi makan dulu ya. Setelah itu diminum obatnya”ibu mengingatkan sambil tersenyum.

Obat oh obat. Sungguh aku benci ‘benda sesajen’ pemberian dokter itu. Bukan saja dari segi rasanya. Lihat saja gunanya. Bukankah obat itu memang untuk orang-orang sakit. Ya, jika aku menelan benda itu. Sama saja artinya bahwa aku ini orang sakit-sakitan. Aku tak mau dibilang orang sakit. Tapi bagaimana lagi? Allah yang berkehendak. Semoga ini ujian dari-Nya, sehingga derajatku semakin tinggi. Ku sabarkan diri. Pasrah dan jalani.

Do’a selalu kupanjatkan sebelum meminum obat. Berharap kedepannya, benda ini tak akan pernah hadir lagi dan memasuki perut kecilku. Meskipun kemungkinannya kecil, tapi ku sungguh. Kuusahakan agar raga ini senantiasa sehat. Aamiin.

Udara segar ini, oh Tuhan ini nikmat sekali. Hidungku mulai beroperasi. Terasa dingin dan segar melalui rongga hidungku. Kuhirup cepat dan kuhembuskan perlahan-lahan. Paru-paruku mengembang. Kugerak-gerakkan perlahan anggota gerak tubuhku. Suara tulang terdengar. Ini dia yang paling aku benci. Oh Tuhan, lihatlah aku sekarang. Berat badanku menurun, wajahku pucat nan berminyak,mengemis bantuan orangtuaku. Piuh. Lelah menjadi orang sakit itu. Kuingatkan kepada kalian, jangan mau menjadi orang sakit!

Selasa,

Selesai ku shalat isya’, ku rebahkan tubuh keringku ditempat tidur. Eits, sakit bukan alasan untuk tidak melaksanakan shalat. Bedanya kali ini, ku tidur dikamar kedua orangtuaku. Entah mengapa. Hingga malam tiba, sekitar pukul 22.00 malam, menjelang tengah malam tidurku digoyahkan ibuku. Huh, untuk apa pula ibuku membangunkan aku? Tidakkah dia lihat bahwa anaknya ini sedang sakit?

“Bangun teh, kita ke cipasung sekarang. Maaf ibu bangunin malem-malem gini”ujar ibuku. “Mau kemana bu? Cipasung? Mau apa?”tanyaku heran. Baik itu ibu dan ayahku tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Sudahlah, aku tidak peduli. Lagaipula aku benar-benar tidak menginginkan jawaban itu. Yang aku ingin sekarang adalah cepat sampai lalu tidur kembali. Eits, tunggu dulu. Ke Cipasung? Berempat? Tapi keluargaku tidak memiliki mobil. Lalu?

∞∞∞

Ayahku menutup pintu mobil dengan cepat. Lekas ia duduk dikursi mobil depan. Malam ini keluargaku menumpang mobil dari teman ayahku untuk pergi ke Cipasung.

∞∞∞

“Hiks,hiks,hiks”. Ku mendengar isakan tangis dari wanita yang sekarang menyandarkanku,ibuku. Ia sempat mengatakan beberapa kata tentang nenekku,yang merupakan ibu dari ibuku. Jujur, aku masih belum mengerti untuk apa ke Cipasung? Dan kenapa ibuku menangis? Ingin ku bertanya, berharap ibu kan mengeluarkan sepatah dua katanya untuk menjelaskan apa yang terjadi saat ini. Namun, situasi sedang tidak mendukung. Ku memilih untuk membekap mulutku. Dan diam dengan seribu pertanyaan.

∞∞∞

Remang-remang cahaya pantulan kaca mobil ini mengiringi selama perjalanan kami. Sesaat kami sampai di tujuan. Oh, ku baru mengerti apa yang terjadi disini.

Tangan kekar ayah yang menggendongku,terasa lemah seketika ketika melihat istrinya menangis lepas melihat kain putih menyelimuti seseorang. Ibuku, tangisannya pecah. Ia berteriak histeris. Kehisterisannya bahkan sampai mampu melumpuhkan ingatan bahwa aku disini, anaknya, sedang sakit. Ayahku melepaskanku, dan membiarkanku begitu saja. Ku sandarkan tubuh ini, di tembok dingin berlapis cat coklat. Tak ada yang menyadariku disini, sampai pade’ ku menyuruh salah satu sanak saudaraku untuk mengistirahatkanku di kamar. Keluarga besarku tahu, bahwa aku sedang sakit.

∞∞∞

Sampai juga tubuh ini pada kasur empuk ini. Ku menangis, menangis sejadi-jadinya. Sepupuku,mengelus kepalaku lembut berusaha menenangkanku. Sedangkan aku? Aku sama sekali tidak tenang. Saat itu juga aku mengutuk diriku. Bahwa aku telah menghalangi ibuku untuk pertemuan terakhirnya dengan sosok wanita paling berjasa dalam hidupnya. Ku baru mengetahui, bahwa keinginan nenekku adalah mengumpulkan semua anaknya termasuk aku cucu kesayangannya.

“Tenang neng Amel. Udah jangan nangis lagi”ujar sepupuku,Memey. “Teh, gimana Amel bisa tenang? Gimana Amel gak nangis? Amel biang keroknya. Lihat! Gara-gara Amel sakit, ibu gak bisa ketemu nenek yang terkhir kalinya! Amel seharusnya tau diri. Bukan Amel aja yang berharga buat ibu. Sekarang, yang sedang terbaring kaku berbalut kain putih itu, sudah nggak ada! Amel ini memang cucu yang nggak baik. Seharusnya Amel aja yang mengganti posisi nenek sekarang! Nenek nggak bakal datang lagi teh! Ini salah Amel! Ini salah Amel!”teriakku sambil terus mengutuk diriku yang bodoh ini.

Aku! Aku memang bodoh! Kulihat sepupu dan keponakanku berusaha menenangkanku. Aku tak mampu tenang, melihat ibuku terus memeluk nenek sambil menangis tak henti. Mereka menyuruhku untuk tidak terus menyalahkan diri dan berhenti menangis. Tapi ku tak kuasa. Nenek disana, pergi dengan senyuman menghiasi wajahnya. Subhanallah, sungguh ini mulia. Nenekku meninggal disaat tersenyum, tepat di malam pertama bulan ramadhan.

∞∞∞

Tak mungkin keluarga besar Sukarsa ini terus berduka, mengingat ini adalah malam pertama ramadhan. Beberapa bude’ ku menyiapkan santapan untuk sahur. Lantunan ayat suci, ribuan ucapan do’a dan shalat yang mengiringi malam. Menemani kepergian nenekku.Hari ini ku tak bisa puasa, mengingat kondisi tubuhku yang belum meyakinkan. Selamat jalan nenekku……

∞∞∞

Dan, setelah 3 tahun lamanya semenjak peristiwa berduka itu. Baru kali ini kusadari. Tepatnya disaat ku sedang mengerahkan setiap untaian kata dalam cerpen kisah hidup ini. Tidakkah disadari? Nenekku meninggal disaat malam pertama bulan ramadhan. Dan selama ini keluargaku belum pernah sahur bersama. Mukinkah nenekku menginginkan agar anak-anaknya sahur bersama di malam pertama bulan ramadhan, dan dengan peristiwa kepergiannya adalah caranya? Sungguh Allah Maha Mengetahui. Sampai kapanpun jika aku masih tetap aku, takkan kulupakan hari itu,                         . Sungguh, rabu yang berduka.

Karya : Difa Ameliora Pujayanti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: