My Angel,,, I’m Apologize……

Malam hari yang sunyi,pikiran Hana sedang semrawut, perasaan Hana benar-benar bercampur aduk antara marah,kecewa, risih, menyesal dan sebagainya. Hana tidak menyangka ada orang yang serese itu ngasih peraturan. “Ah, daripada mikirin dia mendingan tidur aja.” Hana pun tertidur lelap, dengan balutan selimut hangat, bantal empuk dan memeluk guling.
Tak seperti biasanya, pagi hari ini Hana tidak seceria yang biasanya. Karena semalam Hana mimpi aneh,”Ya Allah apa maksud dari mimpiku tadi malam? Semoga saja tidak akan terjadi meski aku membenci nya, amin” ucap Hana dalam hati. Langsung Hana mandi , mengenakan seragam kemeja sekolah kemudian sarapan. Ketika sarapan,Hana terus saja memikirkan mimpinya semalam.

”Ya Allah kenapa perasaanku tidak enak? Ya Allah aku mohon, jangan sampai mimpi itu terjadi” ucap Hana dalam hati sambil gelisah. “Sayang, ada apa? Kok sarapan nya gak dihabisin? Nanti belajarnya gak fokus lagi” ujar ibunya Hana. “Gak papa bu,” jawab Hana lirih. Lalu, Hana melanjutkan sarapan nya.
“Kepalaku rasanya mau pecah!Ya Allah kenapa ini? Gak biasanya aku kaya gini, padahal soalnya gampang semua?! Aduh, jangan sampai aku di remedial deh!” ujar Hana dalam hati ketika mengisi soal ulangan harian di kelasnya.
Saat di kelas, Hana ingin cerita pada Lisa tentang mimpi semalam. “Lisa” panggil Hana, “Eh” ucapnya menyesal ,”Kenapa aku panggil dia? Aku kan lagi marahan sama dia?” ujar Hana dalam hati. “Ada apa Hana?” jawab Lisa heran, karena setau dia Hana sedang marah padanya. “Gak jadi!” jawab Hana singkat.
“Dug-dug-dug-dug” suara jantung Hana berdetak dengan cepat. Saat itu, pak guru akan mengumumkan hasil ulangan matematika tadi. Dan ternyata…..Oh tidak!!!, di remedial?!, “Pak, apa bapa gak salah meriksa? Masa ulangan Hana hasilnya kecil sih! Bapak pasti salah nilai!” protes Hana. “Tidak Hana, Bapak sendiri juga kaget kenapa kamu bisa dapat nilai merah. Apa kamu lagi sakit Hana?” jawab pak guru. “Enggak ,Pak” jawab Hana singkat. Hana pun langsung duduk di tempat duduknya. Terlihat sahabatnya, Lisa menampakkan wajah riangnya karena mendapat nilai 100! ”Hana, kamu kenapa? Kok, bisa di remedial sih? Kamu nggak lagi sakit kan? Anak-anak pada melongo semua denger kamu di remed!?” ujarnya. “Diam kamu!” ujar Hana keras. “Hana, kalau kamu ada kesulitan, kenapa gak tanya atau cerita ke aku? Mungkin aku bisa bantu?Apa kamu lagi ada masalah?” jawabnya lembut. “Iyah, aku memang ada masalah karena kamu so so-an perhatian sama aku, mentang-mentang nilai kamu seratus! Aku tambah stres karena itu” sentak Hana ,dan Hana pun berlalu keluar kelas. Sontak, Lisa terkejut mengapa Hana sahabatnya bisa berubah sekasar itu? “Hana…..” ucapnya lirih dalam hati.
Saat istirahat, lagi-lagi Hana bertemu dengan Lisa, dia tetap saja menyapa Hana, walau Hana sedang marah besar padanya. “Assalamu’alaikum ,Hana” ujarnya. “Kumsalam” jawab Hana jutek, dan Hana langsung pergi dari hadapannya. Sebenarnya, Hana ingin sekali menangis, setiap Hana mengingat Lisa dan karena mimpi yang Hana alami semalam juga, tapi dia tahan. “Ya Allah kuatkanlah hamba-Mu ini” bisik Hana pelan.
Selama di kelas, Lisa dan Hana hanya diam tidak ada yang mengajak bicara sedikitpun. Bahkan , Hana pindah tempat duduk yang tadinya dengan Lisa jadi duduk bareng Agnes. “Agnes, aku boleh duduk disini nggak?” tanya Hana. “Oh, iya boleh. Emangnya kenapa kamu pindah tempat duduk, Han?” tanya Agnes. “Gak papa, Nes.” Pada hari itu, kebetulan Tini tidak sekolah karena izin. Jadi,Hana duduk dengan Agnes, dan Lisa duduk sendirian sambil terus memerhatikan Hana yang sangat kesal pada nya.
“Teng teng teng” bel sekolah yang menandakan pulang pun berbunyi. Di kelas, rasa nya seperti di pasar, karena ramai sekali. Beragam suara yang terdengar seperti suara decitan kursi, buku-buku yang dimasukkan ke dalam tas, suara pensil jatuh dan suara siswa-siswi yang mengobrol singkat. Segerombolan anak yang keluar dari kelas, tampak seperti pasukan semut. Disaat itu, Hana menabrak Lisa, tapi Hana hanya diam begitu pula dengan Lisa.
Saat tiba di rumah, belum juga Hana mengganti seragam kemejanya, terdengar suara telpon rumah. “Kring kring kring”, langsung saja Hana angkat. “Halo? Siapa ini?” ucap Hana, “Halo, Hana ini Agnes!” jawabnya. “Oh, kamu Nes. Ada apa?” jawab Hana, “Hana, Lisa kecelakaan!” ucapnya. “Apa? Lisa kecelakaan? Kapan? Sekarang Lisa lagi dimana?” jawab Hana kaget. “Sekarang Lisa lagi di RSUD Kuningan,Han. Kamu harus cepet kesini!” ujarnya. “Iya-iya aku kesana” jawab Hana singkat. Saat itu Hana lupa, bahwa dia sedang marah dan kecewa pada Lisa, mungkin karena perasaan batin seorang sahabat.
“Hana! Aku disini! Cepat !” suara Agnes dari kejauhan. Sesampainya di RSUD,Hana langsung menghampiri Agnes.Mereka pun berlari menuju ruang ICU. Hana terkejut , melihat Lisa terbaring dengan penuh lumuran darah di sekujur kemeja putih biru kotak-kotaknya. “Lisa!” teriak Hana khawatir sambil berlari, tapi Agnes menahan nya.

“Hana, kamu jangan masuk. Dia akan dirawat” ucap Agnes. Hana terus saja memanggil nama Lisa sambil menangis, “Lisa…….Lisa, Lisa,,,,maafin aku….”. Disamping itu Hana melihat ibu dari Lisa terus saja menangis melihat anaknya dalam keadaan seperti itu.
Dua jam kemudian, saat Lisa sudah dipindahkan ke kamar pasien. Dokter pun keluar, dan memberitahu apa yang terjadi. “Dokter, bagaimana dengan keadaan anak saya? Dia baik-baik saja kan,Dok?” tanya ibunya Lisa gelisah. “Dia baik-baik saja,Bu.” Jawab dokter. “Alhamdulillah” ujar Hana senang, begitupun dengan yang lain. “Apa kami boleh melihat Lisa sekarang?” tanya ibunya Lisa kembali. “Silahkan,Bu” jawab dokter.
Saat di dalam, ibunda Lisa langsung memeluk Lisa yang sebenarnya belum sadar dari tabrakan mobil truk tadi. Satu, dua tetes air mata Hana pun jatuh, melihat sahabat yang ia sakiti hatinya terbaring lemah. “Lisa…”ujar Hana lirih sambil menangis. Sampai beberapa saat kemudian, Lisa membuka matanya. Sontak ruangan pun ramai dengan panggilan nama Lisa yang sudah sadar. Semuanya tersenyum gembira.
Di sore harinya, Hana kembali menjenguk Lisa di rumah sakit karena tadi Hana pulang ke rumah. Dan kali ini, Hana ditemani kedua orangtua dan kakaknya. “Lisa, kamu harus sembuh yah, karena aku membawakan sesuatu buat kamu! Semoga kamu suka” ujar Hana paksa.Lisa hanya tersenyum tipis . “Tara!!!! Ini dia buat kamu, spesial buat Lisa sahabatku yang sedang berulang tahun hari ini!” hibur Hana. “Wah, buku! Makasih ya ,Han! Aku suka” jawab senang Lisa. “Bagus kan? Kalo kamu mau baca , kamu harus sembuh dulu yah?!” ucap Hana. Suara adzan maghrib memecah suasana saat itu. “Han, shalat yuk, aku mau kamu jadi imamnya.” ujarnya. “Hah? Aku? Aku gak bisa Lis!”jawab Hana “Udah, cepet sana! Kamu mau aku sembuh kan? Mungkin aja dengan kita shalat berjama’ah, aku bisa sembuh total?” ujarnya sambil menaikkan alisnya yang tebal dan tersenyum.

Selesai shalat, tiba-tiba saja Lisa memberi Hana secarik surat, dan ia melarang Hana untuk membacanya sekarang. “Aaah, rahasiaan mulu!” canda Hana sambil mencubit pipinya. “Han, aku juga punya hadiah buat kamu, tapi kamu harus tutup mata dulu ya!”ujarnya ,”Asiiik, OK!” jawab Hana senang. Kini, Lisa sudah terlihat sangat sehat tidak terlihat wajah pucat sama sekali, dan Hana merasa senang. “Tunggu ya…” ucap Lisa rahasia. Tiba-tiba Hana merasa ada sekantong plastik yang Lisa gantungkan di tangan Hana. “Wah, apaan nih? Koq, ngasih keresek sih Lis?” tanya Hana heran ketika memejamkan mata. Tapi, Lisa tidak meminta Hana untuk membuka mata, lalu Hana mengintip.
Terlihat Lisa sudah terkujur kaku dengan posisi terbaring. Hana memanggilnya,”Lisa, Lisa kamu tidur yah? Nanti dulu dong tidurnya!” pinta Hana, tapi Lisa sama sekali tidak menjawab, Hana pun mulai gelisah sambil terus memanggil namanya. “Doorr!!!” Lisa mengejutkan Hana,”Aduuh, Lisa jangan buat aku kaget dong! Gak lucu tau!” ujar Hana kesal. “Ha ha, kaget yah?!”jawab kepuasan Lisa. “Eh, buka dong kereseknya!” pinta Lisa. “Iye-iye” jawab Hana kesal. Hana merasa terkejut ,ternyata isinya adalah sepasang baju muslimah beserta kerudungnya. “Gimana? Jadi, kapan kamu mau berhijab,Han?” tanya Lisa. Tiba-tiba saja, dua tetes air mata jatuh dari mata Hana. “Loh, kamu kenapa,Han? Kok,nangis sih?” tanya Lisa heran. “Ah? Gak papa ko” jawab Hana lirih,”Pake dong bajunya, dan aku minta sekarang kamu pakai baju itu! Sekarang! Ayo cepet!” paksa Lisa. Hana pun memakai baju itu di kamar mandi.
Setelah Hana mengenakan baju itu, terasa kehangatan dan rasa nyaman,Hana mulai betah memakai baju itu. Dan, ketika Hana keluar untuk menunjukkannya kepada Lisa. Terlihat, Lisa sudah terbaring dengan mata tertutup sambil tersenyum. “Ah, pasti bercanda nih anak!” ujar Hana ngeyel, dan Hana pun menggoyang-goyangkan tubuh Lisa sambil memanggilnya tapi ia tidak menyahut. Hana periksa dadanya, dan betapa terkejutnya ia tidak ada detakan jantung sama sekali! Hana pun memanggil dokter, “Dokter-dokter!” dan dokter pun masuk. Ia, memeriksa Lisa,kemudian menghela nafas. “Saya harap semuanya untuk bersabar!” ujar sang dokter. “Memangnya ada apa, Dok? Jangan bilang yang nggak-nggak ,Dok!” jawab Hana tegas. “Dia telah dipanggil oleh Yang Kuasa” jawab dokter.

Suasana menjadi hening seketika, setelah itu dilanjutkan dengan suara tangisan yang keras. Semua menghampiri Lisa, sambil menangis histeris. “Lisaaaaaaaaa…….!!!!!! Aku mohon jangan tinggalin aku!!!!! Aku udah lakuin apa yang kamu mau, aku sudah berhijab, Lisa!” tangis Hana histeris. Hana pun mulai terasa lemah, perlahan Hana berjalan ke luar. Hana sandarkan tubuhnya di dinding, perlahan mulai terjatuh. Hana membuka, kembali kantong keresek itu dan terlihat ada secarik kertas yang Lisa berikan tadi. Kemudian Hana mulai membaca isinya yaitu,
“Hana sahabatku, aku mengirim surat ini karena aku sayang banget sama kamu. Aku tau apa yang membuat mu marah padaku, mungkin kamu merasa kalau aku ini bawel. Terlalu sering nasehati kamu ini dan itu. Tapi itu semua juga untuk kebaikan kamu, Han! Aku ingin sahabat yang paling aku sayang ini berhijab agar kita bisa menjadi hamba Allah yang menjalin persahabatan yang juga dicintai oleh-Nya. Kalo, kamu pakai kerudung juga kan bisa menyelamatkan kamu! Aku minta maaf, kalau selama ini aku terlalu bawel sama kamu. Tapi, ingat jangan kamu lupain pesan aku ini! Dan, kamu juga gak usah nangis lah karena kepergian aku, ngapain ditangisin? Nanti di surga juga ketemu kok. Asalkan kamu mau berhijab! Ingat, yah! Terus bajunya wajib kamu pakai! OK!”
Satu,dua, tiga, empat, lima hingga selebihnya air mata Hana terus mengalir deras bak sungai yang bercabang menjadi anak sungai. Hana merasa sangat bersalah padanya, Hana pernah memarahinya,padahal itu adalah yang terbaik untuknya. “Ya Allah, apa ini adalah arti dari mimpi yang aku alami semalam? Kalau akan terjadi sesuatu pada Lisa? Kenapa bodoh sekali aku ini ,kenapa dulu aku mengabaikan nasihatnya? Seharusnya , aku sudah harus berhijab sama sepertinya. Dasar Hana kamu memang bodoh!” ujar Hana di dalam hati,sambil membenturkan kepalanya ke dinding dengan keras. Tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya kejadian di suatu hari, dimana ia pernah melontarkan perkataan secara kasar kepada Lisa dulu.
—“Hana, menurut aku kamu harus berhijab seperti aku ini. Aku takut nanti kamu menyesal sebelum ajal menjemput kamu. Tempat untuk wanita yang tidak berhijab karena Allah itu di neraka loh! Hukumannya pun berat,kamu akan digantung dengan tumpuan badan oleh rambut kamu sendiri! Nanti kamu menyesal lagi!? Aku udah bilang ini dari dulu, belum kamu konfir juga?” tanya Lisa. “Cukup! Cukup Lisa! Aku capek Lis! Capek!, kamu bisa sabar dikit napa? Aku bosen ngedengernya! Kamu ini sombong banget sih, mentang-mentang udah berhijab nyuruh aku inilah , itulah. Kamu nge-do’ain aku supaya cepet mati dan masuk neraka? Kalo gitu, kenapa aku gak mati aja sekarang biar kamu puas? (Puas? Puas? Puas?)” —
Perkataan itu terus saja mengiang-ngiang di dalam otak Hana. “Ya Allah, aku belum minta maaf ke Lisa. Kenapa Engkau ambil dia secepat ini? Dia wanita yang sholihah, dia adalah malaikat yang menyelamatkanku disaat aku khilaf. Ukhti, aku berjanji akan mengenakan hijab selamanya sampai aku mati nanti hanya karena Allah. Aku akan berubah menjadi lebih baik! Kita pasti akan bertemu di surga nanti” ujar Hana dalam hati yang melihat Lisa dari jendela lorong ,sambil meneteskan air mata dan tersenyum.

Karya : Difa Ameliora Pujayanti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: