Mata Satuku

“Aku berangkat, bu! Assalamu’alaikum!” saut remaja laki-laki dari ruang tamu.
“Iya, nak! Hati-hati ya. Wa’alaikumussalam” jawab sang bunda tersenyum.
Remaja itu pun segera berangkat ke sekolahnya. Entah, atas motivasi apa. Remaja laki-laki itu berlari secepatnya, menjauh dari rumah mungilnya. Tiba-tiba saja, bundanya yang sedang membuat nasi goreng untuk sarapan, teringat untuk apa ia membuat ini. Ya, nasi goreng ini untuk anaknya. “Astaghfirullahaladzim! Rudi belum sarapan!” ingatnya. “Rudi! Rudi!” teriak bunda. “Kamu belum sarapan, ini bekalny…” ia pun terhenti saat melihat anaknya berlari terbirit-birit. “Dia sudah pergi? Kenapa berlari? Hm, sepertinya dia sangat bersemangat sekolah. Ya Allah, mudahkanlah anakku Rudi untuk menggapai cita-citanya. Aamiin” ucap sang bunda dalam hati dengan penuh keikhlasan, disertai dengan senyuman di wajahnya.

Bocah itu menghembuskan nafasnya. Ia kelelahan. “Huh, akhirnya bisa jauh juga dari nenek sihir itu. Aku gak mau makan sarapan buatan dia. Gak enak!” keluh Rudi. Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju sekolah dengan jalan dalam tempo yang biasa, tidak seperti tadi sambil berlari. Sesampainya di sekolah, ia pun langsung bergegas ke warung tanpa menaruh tasnya terlebih dahulu di kelas. Ia membeli jajanan untuk sarapan. “Bi, aku beli ini ya. Berapa?” tanya Rudi pada bibi, si penjual. “Itu semuanya 3000” jawab si bibi. “Oh, ini bi uangnya. Pas 3000. Makasih” ujar Rudi, bibi itu pun menerima uang dan Rudi bergegas ke kelas untuk sarapan.

SMA Negeri Tanjung Harapan adalah sekolah dimana Rudi menimba ilmu. Rudi bisa dikategorikan sebagai anak berprestasi di kelas bahkan di sekolahnya. Sekarang ini, ia sudah kelas 12. Ya, kelas 12 sudah mulai disibukkan dengan pemantapan untuk menghadapi ujian nasional. Rudi menaruh tasnya di kursi tempat duduknya. Ia membuka bungkusan nasi goreng itu dan memakannya dengan lahap, tanpa berdo’a terlebih dahulu.
“Eh, Rudi kamu sarapan di sekolah lagi?” tanya Anton teman dekatnya.
“Iya nih!” jawab Rudi.
“Emangnya, bundamu gak masak?”
“Enggak! Tega banget ya bundaku?! Saking jahatnya, sampai-sampai enggak masak sarapan buat anaknya yang sebentar lagi mau ujian nasional. Huft” kesal Rudi dengan penuh dusta.

“Ya ampun. Ya udah deh, kalo gitu mulai sekarang aku juga bakal sarapan di sekolah temenin kamu. Biar nanti, aku yang bayar. Aku gak tega lihat kamu kaya gini, Di!” simpati Anton. Rudi tersenyum puas mendengar ucapan Anton yang terlihat sangat tulus mengatakannya. Ya, Rudi telah berbohong. Padahal, di rumah sang bunda sudah membuatkan sarapan untuknya seorang. “Haha, akhirnya” ucapnya dalam hati yang penuh dengan kepuasan. Anton, dia adalah salah satu anak konglomerat yang rendah hati di desanya. Kepribadiannya yang baik terhadap sesama, membuatnya banyak disenangi orang. Bukan saja teman-temannya di sekolah, namun di lingkup masyarakat pula. Dan Rudi, memanfaatkan itu dengan rencana yang sangat licik.



Seusai jam sekolah selesai, Rudi hendak pulang. Namun, ketika ia melihat Anton yang juga akan pulang dengan menaiki motor besar, ia menghampiri Anton.
“Hai, Anton. Mau pulang?” sapa Rudi.
“Eh, Rudi. Iya. Kamu juga kan?” jawab Anton santun.
“Iya. Tapi aku mau ngomong sesuatu sama kamu” memulai pembicaraan.
“Apa? Silahkan”
“Gini, kita kan udah kelas 12 jadi harus rajin belajar bukan?” tanya Rudi.
“Iya” Anton mengangguk.
“Nah, aku pengen ngajak kamu buat belajar bareng. Tapi tempatnya di rumah kamu” Rudi memperjelas.
“Oh, gitu. Ayo aja! Tapi, kenapa harus di rumahku?” tanya Anton heran.
“Ya, kamu tau. Rumah kamu kan bagus. Pasti nyaman belajarnya. Gimana? Boleh kan?”
“Ehm, boleh aja sih. Memangnya kita mau belajar bab yang mana?”
“Pelajaran bahasa indonesia mau nya, bab 1 yang kelas 10”
“Ayo. Tapi apa kamu enggak pulang dulu?”
“Mau ngapain?”
“Ya izin lah ke bundamu. Bab yang kita pelajari kan banyak. Pasti sampai malam”
“Oh soal itu, kamu gak usah khawatir. Aku….. aku udah bilang kok ke bunda soal ini. Dia gak akan khawatir” ujar Rudi yang merasa kaget ditanya seperti itu. Rudi gugup menjawabnya, dan ia pun menjawabnya dengan berbohong, lagi.
“Oh ya sudah kalau begitu. Cepat naik!”
“Iya”



Salam kehangatan menyelimuti senja menjelang malam itu. Lantunan shalawat menyertainya. Telapak kaki pun menyentuh dinginnya lantai masjid. Seorang wanita, mata nya menjajah hamparan alas di tepi masjid. Dan akhirnya ia menemukannya dan segera memakainya. Ia pun pulang dengan hati yang was-was. Anaknya Rudi, sampai saat ini belum juga pulang. Ia mempercepat jalannya.
Betapa kecewanya ia saat melihat keadaan rumahnya yang belum juga dihuni oleh anaknya. Sepi. Itulah sensasinya. Anakku belum pulang? Kalimat itulah yang memupuki hatinya. Meskipun terlihat sederhana, hanya tiga kata. Tetapi, setiap katanya mengandung unsur mendalam. Khawatir? Tentu saja! Ibu mana yang tidak khawatir mengetahui anaknya belum jua pulang disaat matahari pun sudah pulang ke rumahnya untuk istirahat melepas lelah. Bersiap untuk bertugas esok menyinari dunia. Sedangkan anaknya sendiri yang kini bernasib sebaliknya. Ia pun menengok ke luar. Berharap anaknya sedang berjalan menuju rumah. Namun, harapannya meleset. Tak ada satu pun raga diluar rumahnya saat itu. Diluar tengah hujan, awalnya hanya sebuah rintikan. Namun berlanjut menjadi sebuah hujan besar. Biasanya, orang-orang berusaha untuk menghangatkan diri kala hujan datang. Bahkan, sebagian darinya langsung tertidur. Namun, berbeda dengan wanita ini.
“Ya Allah, kemana anakku? Lindungi dia ya Allah. Lindungi dia” ucapnya lirih. Ia terus menerus berdo’a berharap Allah kan mengabulkan do’anya untuk senantiasa melindungi anak semata wayangnya di tengah derasnya hujan.



“Assalamu’alaikum! Bun! Bunda!” teriak Rudi dari luar. Bundanya yang kala itu tengah tidur lelap karena bergadang semalaman, terhentak kaget. Kagetnya kali ini, dibarengi dengan rasa kegembiraan. Anaknya pulang dengan keadaan yang baik-baik saja. “Rudi?” lirihnya. Ia pun langsung membukakan pintu.
“Rudi, kamu kemana semalam nak? Ibu mengkhawatirkanmu!” tanya bunda sangat khawatir.
“Aku habis belajar kelompok bareng Anton bun” jawab Rudi datar memasuki kamar.
“Alhamdulillah. Tapi kenapa kamu gak pamit dulu ke bunda? Maksudnya supaya bunda gak khawatir” ujar bunda halus.
“Hah? Jadi bunda tidur di kursi tamu cuman nungguin aku? Bunda berlebihan banget sih! Aku bukan anak nakal bun! Bunda kan tau Anton itu anak baik. Ya aku juga baiklah! Gimana si?” angkuh Rudi sambil menyiapkan buku pelajaran.
“Tapi kan lebih baik kalo kamu izin dulu ke ibu. Apa susahnya?”. Rudi tidak menghiraukan ucapan bundanya, ia pun mengganti bajunya.
“Alah, udah deh. Harusnya bunda bersyukur dong aku udah pulang, jangan nasehatin aku mulu. Udah deh, aku mau berangkat” sentak Rudi sambil menggendong ransel sekolahnya.
“Loh, mau berangkat lagi? Kamu kan bar”
“Bunda! Hari ini aku sekolah. Ini hari kamis bun. Bunda lupa? Atau amnesia? Gini ya, punya orangtua yang lupa umur” sentak Rudi.
“Astaghfirullahaladzim. Ya sudah, maafkan bunda. Bunda rindu sama kamu. Kamu tunggu disini! Bunda akan masak dulu buat kamu sarapan”
“Gak usah bun. Aku udah sarapan dan mandi dirumah Anton. Aku langsung berangkat aja. Kasian Anton udah nunggu”
“Loh, kamu sama Anton? Antonnya mana?”
“Ada di mobil. Emangnya kenapa? Bunda mau Anton kesini? Gak! Rudi enggak akan melancarkan itu. Mending kalo rumah kita bagus. Lah ini? Udahlah, Rudi berangkat!”
“Dan…. ibu gak usah lebay ngekhawatirin Rudi. Kalo Rudi belum pulang atau bahkan gak pulang, itu artinya Rudi ada di rumah Anton, belajar bareng! Ngerti?! Oh ya, bunda jangan ke sekolah lagi kaya kemarin! Rudi malu tau! Rudi gak mau dibully sama temen-temen Rudi, gara-gara bunda cuman punya mata satu! Ngerti?!! Assalamu’alaikum!” ujar Rudi sok bijak.
“Wa’alaikumus…”
“Brug!” Rudi membanting pintu dengan sangat keras.
Ya Allah haruskah anakku seperti itu? Ujar bunda dalam hati. “Astaghfirullah, maafkan aku. Lebih baik sekarang aku beres-beres rumah”

10 tahun kemudian…..

“Daddy, ada tamu diluar” ucap imut seorang anak laki-laki.
“Iya sayang. Siapa?” ujar sang ayah lembut. Dia pun membukakan pintu, dan betapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang berkunjung ke rumah keluarga kecilnya di Singapura.
“Kau?!” sentaknya.
Ya Allah, jadi ini cucuku? Ujar wanita paruh baya dalam hati yang menjadi tamu di rumah pria yang dipanggil “daddy” oleh anaknya.
Karena penampilannya yang kumuh dan wajahnya pun terlihat pucat, anak laki-laki pria itu mencelanya, “Daddy itu siapa? Kenapa jelek sekali. Hahaha”
“Hem, itu…. hey, siapa kau? Kenapa kau kesini? Tak ada sumbangan! Pergi!” sentak pria itu, yang kedua kalinya.
“Apa? Ehm, maaf saya salah alamat” ujar lirih wanita paruh baya itu dengan menundukkan kepalanya.
“Cepat pergi! Brug” sentak pria itu,lagi sambil membanting pintu dengan keras. Saking kerasnya, sampai-sampai membuat wanita paruh baya itu menaikkan bahunya, dan membesar matanya karena terkejut. Ia pun berlalu.

“Istriku,aku ingin pergi”
“Mau kemana?”
“Ke Indonesia”
“Indonesia? Untuk apa? Kau kan tak punya sanak keluarga disana?”
“Ada acara reuni di SMA ku dulu”
“Oh ya sudah, berapa lama?”
“Sekitar 2 hari. Bagaimana boleh kan?”
“Silahkan saja”

Acara reuni kala itu, sangatlah berkesan. Banyak dari lulusan angkatan Rudi yang menjadi orang-orang sukses. Mereka melepas rasa rindu kala itu. Saling bersalaman, bahkan tak segan untuk saling mengobrol.
“Sampai jumpa lagi ya! Makin sukses! Semoga bisa bertemu lagi!” ujar Anton, teman dekat Rudi yang kini menjadi seorang walikota.
“Ya, kau juga! Aamiin” sahut Rudi senang. Lalu, acara reuni itu pun selesai. Dan masing-masing dari mereka pulang. Tak terkecuali Rudi. Tetapi, entah atas alasan apa. Tiba-tiba saja ia ingin berkunjung ke rumahnya saat 10 tahun lalu.
Rudi, pria yang kini dewasa itu pun memasuki salah satu daerah kumuh, tempatnya ia tinggal dulu. Matanya tertuju pada sebuah rumah kecil,berselimut bilik dan atapnya yang terlihat sedikit lagi akan rubuh. Anak-anak kecil disekitarnya melihat Rudi dengan mulut yang sedikit menganga. Ya, Rudi mengenakan jas hitam mahal, sedangkan mereka hanya berpakaian sederhana yang kumuh.
Tibanya Rudi di beranda rumah itu, ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah tersebut. Meskipun ada perasaan jijik, karena lingkungan disekitarnya pun kotor.
“Assalamu’alaikum! Permisi. Kenapa tidak ada yang jawab?” heran Rudi. Lalu ada seorang ibu lewat. Rudi menatapnya dan hendak bertanya. Ibu itu pun memandangi Rudi dengan tatapan aneh, karena gaya nya yang benar-benar orang kota. “Ibu, permisi rumah ini masih ditempati kan?” tanya Rudi.
“Oh, rumah ini? Rumah bu Ratna? Rumah ini sudah kosong” jawab ibu itu.
“Memang bu Ratna kemana?”
“Dia sudah meninggal”. Deg! Jantung Rudi serasa berhenti berdetak.
“Apa? Meninggal? Kapan?”
“Sekitar 2 minggu yang lalu. Memangnya bapak siapa?”. Menyadari kehadirannya tidak dinggap. Ibu itu pun mengejutkan Rudi, “Pak?”
“Oh ya? Saya siapa? Enggak, sekedar lihat-lihat saja. Kalau boleh tau dimana bu Ratna dikebumikan?”
“Dekat kok. Bapak jalan lurus aja, belok kanan. Nah, nanti disana ada petunjuk jalan menuju makam” ujar ibu tersebut, sambil mengarahkan tangannya mengikuti arah jalan.
“Oh gitu. Terima kasih bu” ujar Rudi ramah.



Rudi, setibanya ia di pemakaman, setiap sudut matanya terus mencari nama “Ratna” bundanya. Dan, pada akhirnya ia temukan nama tersebut. Namanya terukir sederhana, di kasarnya struktur nisan. Terlihat ada beberapa bunga yang menyelimuti tumpukan tanah tersebut. Ada rumput yang berdiri disana, hijau. Rudi menggenggam segenggam tanah lembab, lalu menjalar menyentuh nisan tersebut, dingin. Sudut matanya, mengeluarkan sedikit air mata.
“Bunda? Jadi ini rumah bunda yang sekarang? Bunda….. bunda benar-benar meninggalkan Rudi? Kenapa bunda tega?” keluh Rudi menatap nama “Ratna” di nisan.
“Bunda!!!!! Maafkan Rudi bunda. Rudi udah jadi anak yang durhaka. Maafkan atas kekeliruan Rudi. Rudi enggak memperdulikan bunda dulu. Bunda!!!!! Banguun, Rudi janji kalo bunda bangun, Rudi akan jadi anak yang baik. Seharusnya Rudi mendengarkan apa kata bunda. Rudi akan shalat lagi, Rudi akan puasa, belajar ngaji dan membayar zakat. Rudi akan naik haji untuk bunda. Rudi tau, itu impian bunda dari dulu. Bundaaa!!!!!” jerit Rudi di tengah senyapnya pemakaman. Suaranya menggema, ia mengeluaran segala kesahnya. Tak ada yang tak ia ucapkan. Semuanya berasal dari sanubarinya.

Ia buka pintu. Terdengar decitan engsel yang sudah tua. Ia lihat ke setiap sudut rumah tersebut. “Ya Allah, rumah ini tempatku berteduh dari teriknya matahari dan dari dinginnya hujan. Dan bunda, almarhumahlah yang menyelimutiku dengan cinta dan kasih sayangnya” ucapnya dalam hati. Bundaaaaa….. ia menjerit dalam hati, tak ingin membuat kegaduhan di tengah ramainya pemukiman. Lalu, ia pun melihat sepucuk surat yang tersimpan di meja. “Apa ini? Surat?”. Rudi membuka surat tersebut, kemudian membacanya. “Tulisan ini….” ya, ini tulisan bundanya. Isi surat itu adalah…..
Untuk Rudi anak semata wayangku…..
Bunda membuat surat ini, karena bunda tau Allah akan mengirim malaikat mautnya untuk menjemput bunda. Bunda tau Allah pasti akan mengabulkan permintaan bunda, yaitu bunda ingin kamu membaca surat ini dan menengok bunda di rumah bunda yang baru. Rudi, saat kemarin bunda ke Singapura bunda senang sekali bisa melihat cucu bunda. Anakmu dia tampan setampan dirimu. Bunda lihat ada lambang salib di depan pintu rumahmu. Apa kamu sudah pindah keyakinan sekarang? Astaghfirullah, bunda merasa rugi. Bunda merasa menjadi orangtua paling tak berguna. Karena tak mampu menjadi orang kaya raya seperti yang kamu mau, sampai-sampai kamu pindah keyakinan untuk merubah nasib.
Rudi, istrimu seorang kristiani. Terserahmu, apa kau mau tetap di agama lahirmu atau tetap pada agamamu sekarang. Jika kamu memilih menjadi seorang muslim kembali, jangan ceraikan istrimu. Ajaklah dia untuk memeluk agama islam pula. Jika memang sudah tidak mau, keputusan ada di tanganmu. Kau sudah dewasa.
Oh iya, Rudi. Kamu gak usah khawatir tentang kedatangan bunda ke Singapura. Bunda tidak mencuri uang dari siapapun. Bunda sengaja menjual kalung emas dan televisi kita supaya bisa bertemu denganmu di Singapura. Rudi, kamu tau? Waktu itu adalah kali pertama bunda naik pesawat. Rasanya enak sekali. Dan, bunda rasa saat ibu meninggal pun pasti rasanya seperti naik pesawat. Kamu tenang aja, ibu masih menyisakan cincin pemberian almarhum ayahmu.
Rudi, bunda ingin memberitau sesuatu padamu. Bunda minta maaf, jika selama ini mata satu bunda mengganggu kehidupan kamu. Mata bunda masihlah dua saat 23 tahun yang lalu. Sampai suatu saat ada seorang anak laki-laki sedang bermain di kebun, lalu ia terjatuh dan kedua matanya tertusuk ranting. Sehingga, dokter menyarankan di operasi. Dan, bunda merelakan mata bunda yang sebelah kiri untuk mendonorkannya pada anak laki-laki itu. Sedangkan suami bunda merelakan mata kanannya. Kami tak ingin anak laki-laki yang tampan itu menikmati dunia nya dengan kegelapan. Dan, apa kamu tau siapa anak laki-laki itu? Dia adalah kamu, nak. Kamu Rudi anak bunda.
Isi surat itu, benar-benar menyentuhnya. Jika diibaratkan, bagai ribuan duri yang terkandung di dalam jantungmu. Rudi termenung, ia menunduk, menangis. Ia memegangi kedua matanya. Tak segan ia mengeluarkan sebanyak-banyaknya air mata miliknya, sekedar menangisi kekhilafannya. Otaknya, memutar semua kejadian di masa lalunya. Tak ada yang indah yang ia bayangkan. Entah mengapa, otaknya hanya memutar memori dimana kejadian saat ia membentak bundanya, mengacuhkannya. Bahkan, sudah tak menganggapnya sebagai ibu lagi. Ia bangga menjadi seorang yatim piatu dibanding harus memiliki orang tua yang sama-sama hanya memiliki mata satu. Sungguh, biadabnya ia. Rudi menengadahkan kepalanya, jika kalian lihat. Matanya berwarna merah, bengkak dan pipinya dihujani tangisan. “Bunda? Ya Allah jahatnya aku” hanya itulah yang bisa diucapkan. Rudi merasa dia bukanlah manusia, tega menyakiti seorang wanita yang lemah lembut. Bahkan, jika harus memilih mematuhi presiden atau ibu sendiri. Tentu, bagi anak yang baik ia akan lebih memilih mematuhi ibunya. Tergantung jika ibunya pun seorang ibu yang baik.
Tak ada yang dapat dilakukan kini, Rudi hanya mampu diam. Kecuali, ia harus memenuhi janji yang ia ucapkan saat di depan makam bunda nya tadi.
Penyesalan memang selalu datang di akhir, percayalah. Jika penyesalan datang di awal, semua manusia akan menjadi penghuni surga, baik itu surga dunia dan akhirat. Tidakkah kau berpikir? Tanggal 22 Desember, di Indonesia adalah Hari Ibu Nasional. Apa yang kau lakukan untuk ibumu? Orangtuamu? Mulailah perbaiki pribadi kita, surga ada di bawah telapak kaki ibu bukanlah sekedar pribahasa keindahan atau bukanlah pepatah lampau semata. Berbaktilah pada ibumu, di akhirat nanti kau bisa selamatkan ibumu dan sebaliknya. Tentu hanya untuk manusia yang baik saja.

Selamat Hari Ibu…..
Karya : Difa Ameliora Pujayanti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: