PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS KEBERMAKNAAN

LILY MULYADI

KELAS A

            Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah pada dasarnya untuk menjadikan siswa agar memiliki kecakapan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan. Sebagai mahluk sosial siswa memerlukan kecakapan berkomunikasi. Dalam kenyataannya, komunkasi lisan ternyata  tidak mudah dilakukan (kosasih.2011:66). Hal ini dikarenakan berkomunikasi lisan diperlukan kemampuan  dalam memilih kata dan cara menyampikan agar mudah dimengerti oleh lawan bicara.

            Untuk mencapai kecakapan  berkomunikasi diperlukan suatu pembelajaran bahasa Indonesia yang menggambarkan kemampuan belajar siswa dalam mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kebermaknaan dalam  pembelajaran, yaitu struktur kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu.

            Pembelajaran bahasa Indonesia  menjadi  lebih bermakna jika menggunakan model belajar kontruktivistik. Model pembelajaran konstruktivistik memberikan keaktifan terhadap siswa untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi untuk  mengembangkan dirinya sendiri. Pembelajaran bermakna berarti adanya pemahaman yang mendalam (inertunderstanding) dan pemahaman terpadu (integrated understanding) terhadap materi pelajaran (dedi.tth). Pemahaman terhadap makna denotasi, konotasi, lokatif, ilokatif, perlokatif dan deiksis dibutuhkan peran siswa dan guru dalam membangun pemahaman yang mendalam dan terpadu. Dalam pembelajaran tersebut siswa menghubungkan informasi atau materi pelajaran baru dengan konsep-konsep atau hal lainnya yang telah ada dalam struktur kognitifnya. Sehingga  terjadi apa yang disebut dengan belajar bermakna. Dengan demikian pembelajar tidak dianggap sebagai tabula rasa, berotak kosong ketika berada di kelas. Ia telah membawa berbagai pengalaman, pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengkonstruksi pengetahuan baru atas dasar pengetahuan sebelumnya dan pengetahuan baru diterimanya(abdul.2011:13)

            Lebih lanjut abdul(2010:14) mengemukakan bahwa prinsif model pembelajaran kontruktivitik 1) pembelajar adalah pencari makna. 2) pemaknaan membutuhkan pemahaman seluruh sebaik sebagian. 3) pembelajar akan berjalan baik, bila kita(guru) memahami modal mental yang digunakan pembelajar. 4)  tujuan pembelajaran konstruktivitik adalah individu(pembelajar) mengkontruksi maknanya. 5) Pembelajar dimotivasi agar mempunyai keberanian mengemukakan pendapat, gagasan sebagai proses dari konstruksi pegetahuan. 6) pengajar berkeharusan memberikan rangsangan yang mengarah pada penggunaan skema pembelajar. Uraian di atas mengambarkan pembelajaran bermakna.

            Pembelajaran bermakna bisa terjadi jika relevan dengan kebutuhan peserta didik, disertai motivasi instrinsik dan kurikulum yang pleksibel. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih  bermakna bagi siswa jika berhubungan dengan kebutuhan siswa yang berkaitan dengan pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depannya.

Ada sedikit referensi tanpa pengarang  mudah-mudahan bermamfaat:

A. Referensi 1

B. Referensi  2

C. Referensi  3

D. Referensi  4

2 responses

  1. ih bikin penasaran.. mengapa tidak dilanjutkan ?

    1. he..he..he.. biar pintar bu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: