TIPS MEMILIH HOTEL KETIKA BERLIBUR

Tips memilih hotel ketika berlibur merupakan keharusan bagi wisatawan. Tips memilih hotel ketika berlibur akan terhidar dari ketidak puasan atau ketika nyamanan saat menginap di hotel. Banyak wisatawan merasa tidak puas setelah menggunakan jasa hotel karena mengabaikan tips memilih hotel . Bebeapa  hal yang bisa dijadikan tips memilih hotel  di Bangkok seperti berikut

Tapi sebelum memilih hotel, ada baiknya Anda sesuaikan dulu dengan aktifitas Anda selama di Bangkok, dan dengan siapa Anda berlibur. Mengapa demikian?

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kehidupan malam di Bangkok lebih terbuka dibanding Indonesia. Tempat pijat, bar, night club sudah menjadi pemandangan biasa. Bahkan tempat hiburan khusus dewasa sangat mudah dijumpai di Bangkok.Klik disini

  1. Sukhumvit Area. Inilah kawasan paling populer bagi turis dengan jumlah hotel sangat banyak dari Bintang 5 hingga budget hotel, yang tersebar dari Soi 1 hingga 50-an. Sukhumvit sendiri merupakan sentra turis di Bangkok, hampir semua aktifitas disini terkait dengan industri wisata. Anda tidak akan sulit mendapatkan tempat belanja, makan, dan hiburan disini. Untuk wsiata dengan keluarga saya lebih merekomendasikan Sukhumvit dibandingkan Silom. Sukhumvit juga sangat strategis karena dilewati oleh jalur BTS Skytrain. Hotel- hotel yang berada di area ini diantaranya adalah : Westin Grande, Sheraton Grande, JW Marriot, Grand Sukhumvit, Sofitel Residence, The Landmark, Grand Millennium, President Solitaire, Grand Mercure. Untuk berlibur bersama keluarga saya rekomendasikan untuk tinggal di kawasan ini.
  2. Silom Area. Kawasan ini juga dikenal sebagai Little Tokyo. Banyak hotel berada di sini seperti Dusit Thani Hotel. Silom terkenal dengan kawasan tempat hiburan khusus dewasa. Penjual DVD rating X3-pun secara terang-terangan menawarkan dagangannya disini. Pertunjukan-pertunjukan seperti tari erotis sangat mudah didapat, dengan kawasan populer PatPong Night Market. Disini juga ada night bazaar, Anda juga dapat curi-curi pandang apa yang terlihat di dalam. Saya sangat tidak menganjurkan Anda tinggal di kawasan ini jika berlibur dengan anak-anak. Tapi lain ceritanya jika Anda termasuk pengikut genre ‘petualang malam’.
  3. Siam Area. Sebenarnya Siam ini berdekatan dengan Sukhumvit dan dilalui oleh BTS. Banyak pusat perbelanjaan di kawasan ini, diantaranya Siam paragon, Siam Center, Siam Discovery. MBK Center juga tidak terlalu jauh dari ketiga mall itu. Hotel di kawasan ini diantaranya adalah Novotel Siam Square, Pathumwan Princes, Siam at Siam Design, Courtyard by Marriot, Evergreen Place, Asia, dan Diamond City. Bagi Shopaholic sangat cocok untuk tinggal di Siam.
  4. Riverside Area. Inilah kawasan berada di tepi Chao Phraya River, dengan pemandangan banyak kuil dan tentu saja sungai. Hotel- hotel mewah banyak berada di area ini diantaranya adalah : Millennium Hotel, Marriot Hotel & Spa, Mandarin Oriental, Peninsula, Shangri-la, Royal Orchid Sheraton, Ramada Plaza, Best Western Svana. Suasananya relatif tenang dan tidak terlalu hiruk pikuk seperti di Silom.
  5. Pratunam District. Kawasan ini lebih kurang populer bagi kalangan turis. Tidak terlalu banyak hotel disana kecuali yang terkenal Indra Regent, lokasinya dekat dengan Pratunam Market, sehingga gampang untuk beli oleh-oleh. Namun Pratunam memiliki pusat belanja khusus seperti Pantip Plaza untuk IT, Platinum Fashion Mall untuk pakaian. Pratunam juga terkenal dengan grosir pakaiannya, street market, dan outlet pakaian. Selain Indra Regent hotel-hotel di kawasan ini adalah Best Western Mayfair Suites, Siam City, Amary Watergate, Ramada D’MA, Century Park, Baiyoke Sky, Hotel de Bangkok dan masih banyak lagi.

Disamping hotel-hotel tadi, di masing-masing kawasan juga tersedia budget hotel di bawah 1000 Baht. Untuk memesan hotel online dapat melalui agoda.com atau asiaroom.com disamping biro perjalanan di Indonesia. Selamat berlibur.https://www.hotelscombined.co.id/SearchBox/305405

referensi

https://totosp.wordpress.com/2009/05/18/memilih-hotel-paling-tepat-di-bangkok/

 

UAS BAHASA INDONESIA untuk kelas DEFG/ dalam perbaikan

Sumber : Buku Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas 9

jawaban kumpulkan perkelompok 1 Kelompok 3 Orang.

Tragedi Tanggal Ulang Tahun

Berseragam putih biru, mengenakan kerudung putih yang melapisi tubuh sampai dada. Sepatu hitam yang mengkilap. Kini ia siap untuk berangkat menuju gerbang masa depan. Dengan segenap semangat, ia berjalan menuju bangunan besar tempatnya menyongsong masa depan. Senyum tak lupa diukirnya. Langkah kaki beriringan denghan ayunan tangan. Suara yang dihasilkan dari sepatu seiring menapak tanah, menjadi simfoni pengantaran ia menuju sekolah.
Tak butuh lama, ia sampai. Saling menyapa, sudah menjadi kebiasaanya jika bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya. Senyum, sapa, sangat ramah. Tibalah ia di kelasnya, ia hampiri tempat duduknya. Dengan nyamannya kemudian ia duduk. Masih bercengkerama bersama sahabatnya. Ada hal ganjil, saat ia mulai mengajak berbicara teman-teman kelasnya. Mereka lebih bersikap dingin padanya. “Mereka kenapa? Apa yang salah denganku?” pikir gadis itu. Tak peduli. Hingga suasana dingin itu dihampiri suara bel pertanda jam pelajaran sudah dimulai.
“Berdiri!” perintah Aldo, si ketua murid. Dan murid di kelas itu pun berdiri menghadap guru yang akan mengajar mereka di jam ini. Beri salam!” perintahnya lagi. Semua murid mengikutinya. “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh.” Terdengar kekompakan saat pengucapan salam. Sang guru menjawabnya. “Duduk!” Aldo mempersilahkan teman-teman seangkatannya untuk duduk kembali di tempat masing-masing. Dan, suasana belajar pun dimulai.

Empat jam kegiatan KBM sudah dilalui. Terdengar deringan bel pertanda memasuki jam istirahat. Sesaat, suasana menjadi ramai dengan suara buku, decitan kursi dan beberapa suara murid. Sang guru mohon pamit , dan keluar kelas. Murid-murid berhamburan keluar kelas. Jika dilihat akan seperti pasukan semut yang keluar dari sarangnya untuk mencari makan.
Gadis itu, tak seperti teman-temannya. Ia duduk merenung sendirian. Sahabatnya, Melia, melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan sahabatnya itu. Melia memulai pembicaraan.
“Hey, kenapa? Kok murung gitu sih?” tanya Melia.
“Apa? Enggak kok, aku enggak apa-apa” jawab malas Vika.
“Masa sih? Kalo enggak ada apa-apa, kenapa kamu murung gitu?” tanya Melia meyakinkan. “Ayolah, cerita dong!” paksa Melia. Dan , Vika pun angkat suara. “Hem, kamu merasa aneh enggak sih dengan sikap temen-temen di kelas ini yang sedikit dingin sama aku?” heran Vika.
“Oh ya? Aku enggak merasa begitu.”
“Itu kan kamu! Anehnya, teman-teman bersikap dingin cuman sama aku. Aku perhatiin ke yang lain enggak gitu kok.”
“Memangnya, kenapa kamu berpikiran gitu?”
“Tadi, aku kan bertanya ke Cici. Kamu tau kan Cici kaya gimana? Tiba-tiba aja, dia berubah drastis gitu. Jadi cuek banget sama aku.”
“Mungkin, dia lagi sebel kali sama kamu?”
“Bisa jadi. Tapi karena apa coba? Toh, kemarin aku sama Cici masih baik-baik aja kok. Malahan, aku sempet nganterin dia ke toko.”
“Ngapain ke toko?”
“Katanya sih, mau beli sesuatu buat yang lagi ulang tahun.”
“Ya udah, kenapa kamu gak tanya ke Cici aja langsung?”
“Enggak ah. Lagipula ini aneh. Bukan cuma Cici, Mel. Tapi yang lain juga! Masa aku tanya satu-satu?”
“Ya udahlah, kita bisa urus ini nanti. Eh, aku mau ke kantin nih. Mau ikut?” tawar Melia.
“Ikut-ikut!” seru Vika.
Mereka pun pergi ke kantin sekedar membeli cemilan makan siang. Mereka makan disana. Beberapa menit kemudian, bel masuk pun kembali berdering. Semua siswa yang tersebar di segala penjuru sekolah, memasuki kelasnya masing-masing. Jam pelajaran kembali dimulai.
Gadis itu, yang diberi sikap dingin oleh teman-teman kelasnya. Kehilangan gairahnya. Ia memang tetap mengikuti KBM dengan baik, namun sedikit kehilangan mood. Ia melirik teman-temannya yang saling bercengkerama. “Kenapa aku dicuekin sih? Emang aku salah apa sama mereka? Yang normal hanya Melia aja.” batinnya. Kemudian, ia menerawang. Memikirkan kesalahan apa yang telah ia perbuat, sehingga teman-temannya bersikap dingin padanya. “Huh, masih normal aja kok!” keluh batinnya, sesudah ia menerawang jauh kejadian-kejadian tempo hari. Dan, memang tidak ada kesalahan menurutnya. Sikapnya ini, tertangkap mata sang guru. Guru yang sedang mengajar itu pun memanggil namanya. Gadis itu hanya tersenyum malu. Teman-temannya menatap dengan penuh kebencian.
Inginnya ia teriak, sambil mengatakan apa kesalahannya sampai-sampai membuat teman-temannya berbuat seperti ini. Namun, mustahil ia lakukan. Ia tak ingin dikeluarkan dari kelas karena kekonyolannya itu mengganggu ketenangan KBM.

Suasana dingin itu, dirasa telah berakhir tepat ketika telinganya mendengar bunyi bel pulang. Ia membereskan alat-alat belajarnya. Dimasukkannya ke dalam tas. “Tinggal duduk manis. Dan semuanya akan selesai. Sabar. Sabar.” gumamnya, sambil menghela nafas berat. Ketua murid membubarkan kelas, dan murid pun berhamburan. Gadis itu dengan cepat keluar kelas. Ia tidak memperdulikan Melia, sahabatnya yang memanggil namanya. Ambisinya untuk sesegera mungkin sampai di rumah sangat besar. Jalannya sedikit tergesa. Anehnya, teman-teman kelasnya mengikutinya dari belakang. Sadar, ia sedang diikuti. Ia pun berbalik, menghadap teman-temannya. Mereka hanya diam, dengan ekspresi sedikit terkejut. Gadis itu kembali meneruskan jalannya untuk pulang. Tetapi, karena teman-temannya masih saja membuntutinya, ia kembali berbalik. Kali ini, ia angkat bicara.
“Apa sih yang kalian mau? Kalian marah sama aku? Kalian mau nya apa? Kenapa kalian membuntuti aku?” luapan emosi ia kerahkan. Melihat gadis itu menangis, akhirnya mereka pun tertawa terbahak. Ekspresi bingung dan terkejut ditampilkan gadis itu. Cici, teman dekatnya menghampiri gadis itu.
“Vika, kamu jangan marah dong! Kami semua enggak marah kok sama kamu. Kami semua sengaja menyusun rencana ini. Karena….. “ ucap Melia yang terputus.
“Selamat ulang tahun!!!!!!!” serempak teman-teman mengucapkannya secara bersamaan. Mereka mengeluarkan atribut yang identik dengan perayaan ulang tahun. Mimik wajah Vika menjadi berubah. Yang semula bingung, kini matanya mulai berkaca. Wajahnya pun memerah.
“Eh, Vika! Udah, enggak usah nangis. Kami sengaja merayakan ulang tahun kamu, sebagai penghargaan karena kamu berhasil menjadi murid teladan sekolah kita tahun ini!” ujar Cici senang.
“Hari ini ulang tahunku?” tanya Vika. “Ya iyalah! Kamu enggak inget? Hahaha. Sudahlah Vika, jangan-jangan karena kamu mikirin sikap kita yang dingin ke kamu tadi, kamu jadi lupa sama ulang tahun sendiri?” ujar Aldo. Kemudian, diiringi dengan suara tawa yang bersamaan. Vika menangis. Ia menangis sejadi-jadinya. Tak berpikir panjang, ia pun berlari menjauhi kerumunan teman-teman yang merayakan ulang tahunnya. Sontak saja, mereka bingung akan sikap Vika yang sekaligus mengecewakan. Haruskah ia meninggalkan teman-teman yang sayang padanya, yang merayakan hari ulang tahunnya tanpa ucapan terima kasih?
Melia, yang melihat kejadian itu, sebagai seorang sahabat tentulah ini menjadi hal yang aneh. Bukan hanya bagi dirinya, namun yang lain pula. “Eh, Vika kenapa?” tanya salah satu dari mereka. “Iya, yah. Bukannya terima kasih, malahan kabur gitu aja?” ucap Talia. Dan teman-teman yang lain mengiyakan ucapan Talia. “Sepertinya, ada yang aneh. Ekspresi yang diberikan Vika juga beda. Ada apa ini?” pikir Melia.
Melia pun merencanakan sesuatu, ia mengajak teman-teman kelasnya untuk berkunjung ke rumah Vika. Ia menjelaskan, Vika tak mungkin orang yang seperti itu. Tak tau terima kasih. Pasti ada sesuatu yang salah dengannya hari ini. Teman-teman yang lain pun menyetujuinya.
Mereka berangkat bersama, masih membawa hadiah untuk Vika. Melia mengetuk pintu rumah Vika. Pintu terbuka, terlihatlah seorang wanita cantik meski menginjak usia 40, ibu dari Vika. “Eh, Melia. Silahkan masuk. Wah, ada yang lain juga. Silahkan, masuk masuk!” ujar ibu Vika ramah. “Terima kasih tante” ujar Melia dan yang lainnya. Mereka pun masuk.
Ngomong-ngomong ada apa nih, tumben kalian kesini?” tanya ibu Vika. “Kami, kesini mau memberi ini kepada Vika.” Jawab Melia sambil menyodorkan hadiah. Hadiah?” tanya ibu Vika heran. “Iya, Bu. Hari ini kan ulang tahunnya Vika.” Ucap yang lain. Ibu Vika hanya mengangguk. “Terima kasih, atas hadiahnya. Ehm, apa kalian sudah mengatakan ini sebelumnya pada Vika di sekolah?” tanya ibu Vika khawatir. Yang lain mengangguk. “Vika dimana , tante?” tanya Boby. “Di kamar. Ehm, tante mohon maaf ya. Kalau Vika bersikap tidak sopan sama kalian. Tapi, kalau bisa kalian jangan merayakan ulang tahun Vika. Tante mohon.”
Loh, memangnya kenapa tante?” tanya Aldo heran. Ibu Vika menghampiri kamar Vika, ia mendapat Vika seang tertidur. Lalu ia pun kembali duduk, ia menjawab pertanyaan yang pasti bukan saja ditanyakan oleh Aldo tetapi yang lain juga.
“Vika, dia memiliki trauma di hari ulang tahunnya. Ayahnya, almarhum meninggal pada saat ualng tahunnya.” Ibu Vika sejenak menghentikan pembicaraannya. Sontak, pendengar pun merasa terkejut. Dan ekspresi yang mereka tunjukkan, seolah mengisyaratkan bahwa mereka mengatakan ‘Benarkah?’. Ibu Vika kembali meneruskan pembicaraannya. Setiap kalimat yang diucapkan ibu Vika, membaw Melia dan yang lain seolah melihat langsung kronologis kejadian disaat ayah Vika meninggal.
Flashback on…..
“Bu, ayah mana? Kenapa ayah belum juga pulang?” tanya Vika kecil.
“Tunggu ya sayang, ayah pasti akan datang kok!” jawab ibu Vika lembut. Tiba-tiba nada dering ponsel ibu Vika berbunyi. Dan penelepon adalah ayah Vika! Langsung ibu Vika menjawab telponnya.
“Halo” ujar ibu Vika mengawali pembicaraan di telpon.
“Assalamu’alaikum, Bu!” jawab yang diseberang.
“Wa’alaikumussalam. Ayah? Ayah gimana kabar?”
Alhamdulillah baik, Bu. Vika mana?” tanya ayah.
“Ada disini.” Ibu menjauhkan ponsel dari telinganya dan berbicara dengan Vika. “Ini dari ayah!” bisik ibu. “Wah, Vika pingin ngobrol sama ayah, Bu!” ujar Vika. Ibu Vika memberikan ponselnya kepada Vika.
“Halo, ayah?”
“Vika!!!”
“Ayah! Ayah lagi dimana? Cepet pulang! Besok kan hari ulang tahun Vika.”
“Iya, ayah ingat Vika. Ayah juga bawa hadiah spesial buat Vika.”
“Oh ya? Apa itu? Kasih tau dong!”
“Eits, nanti dong! Kalau ayah udah pulang.”
“Memangnya kapan ayah pulang? Besok kan?”
“Iyaa, Vika.”
“Asyik, jangan terlambat ya ayah. Vika tunggu!”
“Insya Allah. Vika, tolong beri ponselnya ke ibu ya. Ayah mau bicara sama ibu.”
“Yah, ya udah deh. Ibu, ayah pingin ngobrol sama ibu. Nih!”
“Hem, terima kasih sayang. Ya ayah?”

Keesokan harinya…..
“Selamat ulang tahun Vika!!!”
“Terima kasih ibu.”
“Ini hadiah buat Vika dari ibu. Dan, ini dari ayah”
“Wah, terima kasih ibu. Dari ayah? Tapi…. kenapa bukan ayah yang ngasih langsung ke Vika? Katanya ayah pulang hari ini?”
“Maaf sayang, ayah enggak bisa pulang hari ini.”
“Ih, ayah bohong. Loh, kenapa mata ibu sembab? Ibu nangis?”
“Apa? Oh ya? Oh ini, ini karena ibu senang Vika ulang tahun.”
“Kenapa harus nangis?”
“Kan tangisannya, tangisan kebahagiaan sayang.”
“Oh, gitu. Ya udah, kalo gitu Vika pingin ngobrol sama ayah. Mana ponsel ibu?”
“Jangan Vika! Ayah lagi sibuk. Gak boleh diganggu.”
“Yah, padahal Vika pingin denger ayah ngucapin selamat ulang tahun buat Vika”
“Ehm… Vika masih bisa mendengar ayah mengucapkan selamat ulang tahun untuk Vika kok.”
“Benarkah? Vika ingin dengar!” ibu pun memberikan ponselnya, memutar putaran rekaman suara ayah Vika. Vika terlihat sangat bersemangat. Ia mendengarkan dengan seksama suara ayahnya. Sayangnya, hanya beberapa kalimat yang ayah Vika ucapkan. “Vika, selamat ulang tahun. Maaf, ayah enggak bisa pulang dan mengajak Vika jalan-jalan. Sekali lagi selamat ulang tahun anak semata wayangku. Semoga, kau selalu menjadi anak yang baik. Ayah mencintaimu, Nak.”
Vika, anak berusia 5 tahun selesai mendengar rekaman itu. Raut wajahnya menjadi bingung. “Ibu, tadi ayah bilang apa sih? Vika enggak ngerti. Terus kenapa ayah ngomongnya kaya orang sakit?” tanya Vika, namun ibunya hanya diam. “Ibu!” panggil Vika membuyarkan lamunan ibunya. “Iya? Oh, ini. Bukan kaya orang sakit. Ayah sama seperti ibu, tangisan kebahagiaan.” Vika hanya mengangguk.

Saat sore…..
“Vika, kemari. Ada yang ingin ibu bicarakan.”
“Apa ibu?”
“Sebenarnya ayah enggak akan pulang.”
“Ha? Kok gitu sih bu? Emang ayah sibuk banget, sampai-sampai enggak sempet pulang?”
“Bukan gitu sayang….. sebenarnya ayah, dia udah enggak ada.”
“Maksud ibu apa?”
“Ayahmu sudah meninggal, Vika”
“Meninggal? Mati?” ibu mengangguk masih dengan menunduk. “Ayah… ayah meninggal? Tapi kan bu, ayahnya udah janji ke Vika mau pulang. Mau ngajak Vika jalan-jalan. Ayah bilang pulang hari ini. Ayah pasti lagi buat kejutan buat Vika kan? Haha, ayah bodoh banget. Buat kejutan tapi udah ketauan duluan. Haha.” Ujar Vika kecil sambil berusaha menghibur diri.
“Enggak sayang, ayahmu sudah enggak ada. Rekaman selamat ulang tahun tadi pagi itu, kata-kata terakhir ayah buat kamu. Ayah bilang itu ketika kecelakaan di jalan. Ayah kecelakaan tadi pagi, sesudah shalat subuh. Ayah ingat sama kamu, sayang. Kamu benar Vika, suara ayah yang merintih itu karena sedang kesakitan.”
“Ayah kecelakaan karena apa ibu?”
“Ayahmu, kecelakaan karena tertabrak truk dan , mobilnya terguling dan ayah tertindih mobilnya sendiri.” Ucap ibu sambil menahan tangisan. Vika menjauh dari pelukan ibunya. Tangisan ia keluarkan, kepalanya menggeleng. Seolah tidak percaya atas yang dikatakan ibunya. Ia berbalik, dan berusaha berlari. Namun, sudah ada pamannya yang memeluknya dari belakang.
“Paman? Paman! Aku enggak sayang ibu! Ibu bohong! Paman, masa ibu bilang ayah udah meninggal. Itu boong kan?” rintih Vika. Tak ada jawaban dari pamannya. Paman Vika hanya memeluk Vika, selalu erat. Sedangkan ibu Vika sudah pingsan, tak kuat menahan semua ini. Vika, dia menangis sejadi-jadinya. Rengekan anak kecil jelas terdengar.
Ibu Vika, kini resmi menjadi seorang janda. Sedangkan Vika, hari ini juga ia resmi menjadi seorang anak yatim. Anak yatim, ya anak yatim. Sebuah gelar yang sangat tidak diinginkan oleh manusia manapun. Namun, takdir mengatakan lain. Takdir sudah diatur oleh-Nya.
Flashback off…
Tetesan air mata mengalir begitu saja, tak mampu berbohong ibu Vika terus saja menangis. Melia dan teman-teman lain turut terbawa suasana, mereka menangis. Dibalik itu, Vika yang mendengar dari balik pintu kamarnya. Langsung mendobrak pintunya, berteriak kepada yang ada disana.
“Sekarang, kalian puas?!” yang ada disana, melirik ke arah Vika. Melia, ia menghampiri Vika memeluknya dengan penuh kesayangan seorang sahabat. Vika berusaha untuk melepas pelukan Melia, namun tak cukup daya. Beban yang dipikulnya sudah cukup dikeluarkan dengan ratusan tetesan air mata. Bersender dalam pelukan sahabat. Teman-teman yang lain melihat dan ikut memeluk Vika. Mereka menangis bersama. Seolah sebuah kebersamaan sebagai keluarga sangat erat.
“Vika, kita akan selalu menyayangi kamu.” Ucap Melia menangis, dan dibenarkan oleh teman-teman lain. “Terima kasih” bisik Vika. Spontan, teman-temannya menangis yang semakin menjadi. Ibu Vika yang melihat fenomena itu, meneteskan air mata. Ia terus memandang anaknya, Vika yang mendapat kasih sayang yang begitu berarti dari teman-teman dikelasnya.
“Vika, kamu anak semata wayang ibu. Suatu saat kelak, kamu akan menjadi wanita hebat. Jadilah, yang terbaik nak.” Batin ibu.

The end…..
Karya : Difa Ameliora Pujayanti

Secret Admirer…..

Aku sedang melamun sekarang, ku nikmati pagi indah ini dengan sejuta cinta dalam kandungan hamparan alam putih. Udara dingin lagi merasuki hidungku. Sepoian angin, bongkahan salju kecil yang jatuh dari genting, suara aliran air, kicauan burung yang hilir mudik, dan…… suara detakan jantung dan hembusan nafasku menambah keharmonisan simponi musim dingin.
Telapak tangan ini kembali merasakan kasar permukaan kertas. Apa yang ku sentuh? Lagi lagi, bunga ini. Ada sepucuk surat disana. Berwarna biru. Dan ada tulisannya!

Selamat pagi bunga matahari,
Jika kau membaca ini,itu berarti kau sudah melihat kirimanku yang ke-51 kali nya. Entah mengapa aku begitu menikmati semua ini, mengirimimu surat, setangkai bunga matahari,dan tentunya lambang hati yang tertera di bawahnya. Aku tau kau pasti merasa risih dengan semua yang telah aku lakukan. Tetapi, percayalah aku melakukan semua ini , karena aku ingin. Bunga matahariku, aku senang bila kau masih sehat. Aku senang bila kau masih mau membaca surat demi surat yang kukirim untukmu. Bunga mataharinya apa kau masih menyimpannya? Rawatlah ia! Jangan untukku, melainkan demi kehidupan bunga matahari itu. Ia pun ingin hidup. Aku tata bunga itu, meskipun tak seindah dirimu.
Your secret admirer,
NN

Ya, itulah dia pengagum rahasiaku yang bahkan sampai sekarang aku pun tak mengetahuinya. Ia telah mengirimkan surat dan bunga sebanyak 51 kali dalam satu tahun ini. Aku pernah berniat untuk meneliti siapa pengagum rahasiaku itu. Tetapi, entahlah setiap aku ingin melakukannya, pengagum rahasia yang berinisial ‘NN’ itu selalu saja melarangnya. Jadi, aku biarkan ia melakukannya. Lagipula itupun haknya. Yang membuat aku bingung adalah mengapa dia begitu tergila-gila padaku?

‘Maaf bunda, Delyona enggak bisa pulang ke Indonesia akhir tahun ini. Ada badai salju di seluruh Britania Raya. Pihak bandara bilang, untuk 2 hari ke depan jadwal penerbangan di cancel sementara” balas e-mailku. Hanya beberapa detik, aku pun menerima balasan e-mail dari bundaku. ‘Badai? Apa besar? Jaga diri kakak yah! Jangan keluar apartement dulu.’ jawab bundaku. Aku pun langsung mereply e-mail tersebut. ‘Iya bunda. insyaAllah kakak lakukan apa yang bunda bilang.’ Kutekan enter dan e-mail pun terkirim. Setelah beberapa menit kutunggu balasan dari bundaku, dan nyatanya tidak ada jawaban, aku meng-off-kan laptopku.
Kusimpan laptop ini ke meja kerjaku, kusimpan kembali pakaian yang tadinya hendak kubawa untuk berlibur ke Indonesia di lemari berwarna coklatku. Kusimpan pula travel bag ini, dan kurapihkan kembali beberapa barang yang berhubungan dengan pulang kampung.
Aku rebahkan tubuhku di ranjang ini, kutarik selimut dan kututupi raga ini. Huh, dingin sekali hari ini. Kulirik jam di dinding, masih pukul 09.00 pagi. Tapi, karena salju sedang turun dengan lebatnya, membuat suasana pagi yang biasanya cerah ini menjadi gelap bak saat dini hari. Aku pun menyalakan AC, kupilih tombol ‘warm’ untuk menghangatkan diri. “Ha~ lebih baik” ujarku. Terima kasih ya Allah, hangat sekali. Inginnya aku tertidur, tetapi jujur saja aku tak bisa. Ayolah, ini masih jam 9 pagi. Tiba-tiba saja aku langsung teringat dengan pengagum rahasiaku itu. Apa dia tetap mengirimkan surat dan bunga disaat salju sedang turun selebat ini? ‘Tak mungkin’ pikirku. Kuangkat bahuku, seolah melambangkan ketidakpedulian.
Tetapi, oh suksesnya pengagum rahasiaku yang berinisial ‘NN’ itu. Kakiku tetap saja menyentuh lantai berjalan menuju jendela apartement-ku. Kubuka jendela, dan betapa terkejutnya aku melihat kiriman pengagum rahasiaku itu. Bedanya kali ini dia mengirimkan secangkir susu coklat hangat dan paket sarapan. Tentunya selain sepucuk surat dan setangkai bunga matahari. “Orang itu…..” gumamku pelan. Kuambil pemberian pengagum rahasiaku itu.
Tangan ini meletakkan secangkir susu coklat, paket sarapan, bunga dan surat itu di meja depan sofaku. Kulihat susu coklatnya masih beruap dan hangat bila disentuh cangkirnya. Itu berarti, semua ini masih baru. Tak segan ku langsung membuka paket sarapan itu. Dan isinya adalah……. satu buah chocolate croissant, satu buah cheese croissant, satu buah burger daging sapi, satu buah apel dan satu buah strawberry. Ok, sepertinya aku pun kagum padanya. Senekat itukah dia, sampai-sampai ketika badai salju pun ia tetap melakukan ini? Mulutku sedikit menganga. Dengan semua pemberian ini, apakah terlihat berlebihan jika aku mengatakan ‘wow’ ? aku rasa tidak. Orang itu benar-benar nekat! Sekagum itukah ia padaku? Siapa dia? Aku hanya gadis Indonesia yang datang kesini hanya untuk meminta ilmu. Bukan untuk dikagumi. Apa ia pria yang kukenal? Apa kebangsaannya? Jika boleh diakui, itulah rentetan pertanyaan yang selalu menari-nari di kepalaku.
Mulanya aku takut mengonsumsi makanan itu, tetapi karena kebetulan aku pun hanya sarapan dengan sandwich dan milkshake, tergodalah aku. Tak terlalu lahap aku memakan paket sarapan itu, tapi sangat lahap! “Ehm~ makanan ini enak banget! Apa dia yang buat? Kenapa pria bisa membuat makanan seenak ini? Apa dia seorang koki?” ujarku. Tak lupa ku berdo’a sebelumnya. Makanan utama pun sudah kusantap, tiba untuk makan dessertnya. Ada 1 buah apel. Ya, aku berdo’a sebelum makan apel itu. Aku tak mau seperti Putri Salju atau nama kerennya ‘Snow White’ yang tertidur karena memakan apel pemberian orang asing. Hey, dia pengagum rahasiaku bukan? Itu berarti aku tidak mengenalnya, yang sama saja bahwa dia orang asing bagiku.

Sore ini masih sama seperti pagi tadi, salju masih turun. Bedanya, tak selebat pagi tadi. Hanya butiran kecil. Pandanganku masih menerawang jauh, entah mengapa aku masih saja memikirkan pengagum rahasiaku itu. ‘Huh, bodoh sekali. Untuk apa aku memikirkan dia?’ gema hatiku. Aku pun mengambil mantel tebal berbulu yang tergantung di lemari, aku berniat untuk sekedar jalan-jalan sore ini. Bosan, terus diam didalam apartement.
Kuhembuskan nafas sore, ya masih segar tapi dingin. Ah, konyolnya aku, ini kan musim dingin. “Yah, kursi nya ketutup salju” keluhku. Terpaksa, aku tak bisa duduk. Tak apa bukan itu yang aku cari. Aku berkeliling taman ini, oh musim dingin aku sangat menyukai musim ini. Inilah musim yang aku nanti-nantikan selama hidupku. Bulan ini adalah bulan pertama aku bisa merasakan musim dingin. Lembutnya salju putih, dinginnya oksigen, dan uap yang keluar dari mulutku, itu lah yang aku suka. Bahkan disaat aku menggesekkan kedua telapak tanganku kemudian menempelkannya di kedua pipiku adalah kebiasaan yang sangat aku suka. Di negeriku Indonesia, belum pernah aku merasakan ini. “Ayah, bunda, adikku, andai kalian bisa berlibur kesini. Kalian akan merasakan kehangatan di tengah salju. Tentunya jika kita bersama” gumamku sembari tersenyum.
Tudung jingga yang menutupi aurat atasku, yang disebut ‘kerudung’ ini melindungiku dari dinginnya salju. Tinggal di negeri orang dimana penduduknya yang beragama Islam yang minoritas, justru membuat aku bangga. Karena disini, aku bisa tampil beda diantara manusia-manusia lain. Dan aku suka tampil beda. Itulah aku. Lagi, senyum yang terlihat diwajahku sekarang, aku menengadahkan kepala menghadap angkasa sambil mengatakan “Aku cinta diriku”.

“Hoam, selamat pagi dunia! Apa aku masih hidup?” seruku menyambut pagi, aku meraba tubuhku. “Terima kasih Ya Allah, di awal tahun baru ini Kau masih memberiku nyawa di dunia ini” ku tersenyum. Ku tegakkan badan, pergi ke kamar mandi untuk berkaca dan tentunya berwudhu. Tak lupa menggosok gigi, aku tak mau mulutku beraroma tak sedap saat sedang menyembah-Nya.
Salam mengakhiri shalat subuhku, aku berdzikir sejenak dan berdo’a. Awal dari do’aku diawali dengan membaca basmallah dan shalawat. Lalu kuteruskan dengan membaca do’a untuk kedua orang tuaku. Seterusnya aku berdo’a dengan menggunakan bahasa Indonesia.
“Ya Allah, sesugguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, kehidupan duniaku, keluargaku, hartaku dan ilmuku. Ya Allah tutuplah aurat aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang lain dan berilah ketentraman di hatiku. Ya Allah, peliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan, kiri, dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu agar aku tidak mendapat bahaya dari bawahku. Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, telah lalu hukum-Mu atasku, adil ketetapan-Mu atasku, aku memohon kepada-Mu dengan perantara semua nama milik-Mu yang Engkau namakan sendiri, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan seseorang dari hamba-Mu, atau Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai penawar hatiku, cahaya dalam dadaku, penghapus dukaku, dan pengusir keluh kesahku. Aamiin”
Itulah sepenggal dari do’a yang selalu kupanjatkan sehari-hari selama aku tinggal untuk kuliah di Universitas Oxford, Inggris. Selesaiku dengan urusanku, kulipat dengan lembutnya dan kusimpan ke tempatnya kembali mukenaku. Lanjutku dengan menyiapkan secangkir susu coklat panas. Cerobohnya aku, tak sengaja terkena tumpahan air panasnya. “Aw!” jeritku kepanasan. Sebaiknya aku simpan dulu disini. “Sambil tunggu susu nya mendingin, aku bereskan dulu tempat tidurku”. Aku pun bersemangat untuk membereskan tempat tidurku. Ketika membereskannya, aku bersenandung pelan.
“Ok, sudah beres!” ucapku. Ku menoleh ke arah jendela, “Ya ampun, aku belum membuka gordengnya! Bagaimana aku bisa lupa?! Huh, Delyona Delyona” ujarku menggerutu pada diriku sendiri. Kubuka gordengnya, cahaya matahari masih kecil disana. Pantas saja, ini masih pukul 5 pagi. Saat aku berniat untuk membuka jendela sekedar menghirup udara segar tahun baru, angin dingin menghempaskan dirinya sendiri terlebih dahulu padaku. Brr,dingin. Kembali aku mengenakan mantel tebalku. Ku ambil cangkir susu panasku, ku berjalan menuju jendela. Ada aura tersendiri yang membuatku ingin duduk disana, menikmati pagi sambil menjadi saksi munculnya cahaya matahari tahun baru yang lebih cemerlang lagi.
Benar saja, sesuai dugaanku, ada sepucuk surat dan setangkai bunga matahari tersimpan manis di alas jendelaku yang berfungsi untuk duduk. Bedanya lagi, ada sebuah kotak yang menemaninya. Ku duduk dan kubuka surat itu, kubaca dengan suara yang tak lantang.
“Selamat pagi dan selamat tahun baru bunga matahariku,
Apa kabarmu hari ini? Aku harap kau kan baik-baik saja untuk setahun penuh” haha, aku sedikit cekikikan membaca surat ini. Dia bilang sehat setahun penuh? Aku harap. Lalu kulanjutkan kembali membaca surat itu masih dengan suara yang tak lantang.
“Kau tau? Aku selalu mendo’akanmu. Aku selalu berdo’a agar kau sehat, dan tetap menjadi dirimu sendiri. Aku ingin berbagi sedikit cerita padamu. Semalam, aku berniat untuk menampakan diriku di hadapanmu. Sebenarnya aku pun lelah terus-menerus bersembunyi darimu. Tetapi, aku tak cukup berani untuk melakukan itu semua. Ya, mungkin kau akan berpendapat bahwa aku pria yang konyol dan tidak jantan. Aku ingin merayakan tahun baru bersamamu. Aku bahkan sudah menyiapkan makan malam yang ditata sedemikian rupa, itu semua semata-mata agar aku bisa menghabiskan malam tahun baru yang ditemani butiran salju bersamamu. Tetapi, aku pun tau diri. Kau pastinya tak akan mau menerima tawaranku. Kau sangat menjaga dirimu sebagai seorang muslim. Aku menghargai itu, meskipun sakit. Aku rela melakukan apapun untukmu. Jadilah aku merayakan malam itu seorang diri. Meskipun sejatinya ada teman-temanku pada saat malam pergantian tahun baru.
Mungkin, sekarang saatnya aku mengatakan hal yang sebenarnya. Aku, pria berinisial ‘NN’ jatuh hati padamu. Sebenarnya sudah lama aku memiliki perasaan ini padamu. Tepatnya, satu tahun yang lalu. Aku selalu memotret dirimu secara diam-diam. Aku mengumpulkan semua foto-foto itu yang nantinya ingin aku tunjukkan padamu secara langsung saat malam pergantian baru. Tetapi, karena semua itu tak terlaksana, maka aku memberikan ini padamu secara tidak langsung. Kau tau? Menurutku, ekspresi apa pun dan gaya apa pun yang kau miliki. Kau kan selalu terlihat cantik dan manis. Apa kau memegang kotak itu? Kotak yang aku kirimkan? Isinya hanya beberapa foto yang menurutku adalah yang terbaik. Jika boleh jujur, sebenarnya aku menyalin foto yang terdapat dalam kotak itu. Aku tak mau kehilangan foto terbaikmu.
Aku juga ingin memberitaumu, apa alasanku memakai ‘bunga matahari’ sebagai panggilan spesial dariku untukmu. Bagiku, kau adalah makhluk Tuhan yang indah. Kau selalu terlihat cerah, berseri, cantik, dan beraura. Kau wanita yang selalu merendahkan diri. Semua itu layaknya bunga matahari. Lagipula, jika kau dipadukan dengan bunga matahari akan terlihat serasi dan……manis.
Bunga matahari, aku berharap aku masih tetap bisa melihatmu. Secara sembunyi-sembunyi tentunya. Aku benar-benar belum memiliki cukup keberanian untuk menampakkan diriku di matamu. Jadi, biarkan aku mengagumimu. Biarkan aku mencintaimu dalam diam. Biarkan aku merindumu dalam senyap. Biarkan aku memelukmu dalam mimpi. Meski itu sakit.
Semoga kau suka, Bunga Matahariku

Your secret admirer
NN
Tanpa secara sadar, air mataku keluar tanpa aba-aba dariku. Jika boleh jujur, aku terharu dengan perjuangan yang dilakukan pengagum rahasiaku itu. Dia…..hebat. Tanpa basa-basi aku membuka kotak tersebut. Kulihat, ada banyak foto didalamnya. Dia bilang apa? Hanya beberapa foto? Setelah kuhitung ada 28 foto. Apa itu bisa disebut beberapa? Memangnya, berapa banyak foto yang ia simpan?
Ku melihat satu per satu foto itu. Disitu aku melihat potret diriku disaat aku pertama kali masuk universitas, keluar dari apartement-ku, saat makan siang, saat menikmati musim gugur, saat sedang mengerjakan tugas kuliahku, foto surat yang biasa ia berikan padaku, foto bunga matahari, saat aku menaiki bus, saat aku tertawa, tersenyum, berwajah datar, bahkan saat aku tertidur di bus! Dan beberapa foto yang lainnya. Namun, yang membuat aku terkejut adalah, ada salah satu foto dimana aku sedang menikmati musim dingin menjelang tahun baru. Lokasinya pun ditaman dekat apartement-ku. Disitu aku mulai berpikir, “Bukankah itu aku saat sedang di taman kemarin sore?” gumamku. “Jadi, kemarin sore saat aku sedang di taman dia juga ada disana? Kenapa aku tak melihatnya? Di foto ini, sepertinya arah potretannya pun dari arah depanku. Tapi kenapa aku tidak menyadarinya?” lanjutku masih dalam kebingungan.
Aku lihat kembali isi surat tersebut, kubaca kembali kalimat akhir dalam surat itu, “Bunga matahari, aku berharap aku masih tetap bisa melihatmu. Secara sembunyi-sembunyi tentunya. Aku benar-benar belum memiliki cukup keberanian untuk menampakkan diriku di matamu. Jadi, biarkan aku mengagumimu. Biarkan aku mencintaimu dalam diam. Biarkan aku merindumu dalam senyap. Biarkan aku memelukmu dalam mimpi. Meski itu sakit.”
Ku genggam erat bunga matahari itu, saat itu cahaya matahari mulai muncul. Kulirik bunga matahari itu, pikirku untuk mencocokkan dengan bulatnya matahari. Aku tersenyum, bunga matahari ini cantik sekali. Ini adalah bunga matahari tercantik yang pernah ia berikan padaku. Kuturunkan kembali bunga matahari itu, tak ku lepas tetapi lenganku berpangkuan pada pahaku yang tertutup mantel hangat.
Senyumku memudar seketika, kembali aku bergumam. “Pengagum rahasiaku, kenapa kau tak tampakkan dirimu saja semalam? Aku suka bunga matahari ini” senyumku kembali mengembang saat mengatakan ‘Aku suka bunga matahari ini’. Senyumku memudar kembali. Aku pejamkan mataku, lalu kubuka kembali. Kuhembuskan karbondioksidaku, entah mengapa aku pun lelah terus diperlakukan seperti ini.
“Ya Allah, dalam do’aku sewaktu pagi menyambut tahun baru tadi ada yang kurang. Ada secercah harapanku di tahun ini” do’aku sambil menyandarkan kepalaku ke jendela. Seolah jendela ini adalah tempat pangkuanku menanggung bebanku yang terus dijadikan objek pengaguman.
“Ada satu, aku ingin tau siapa pengagum rahasiaku ini” lanjutku. Pandanganku menerawang jauh, biarkan pagi tahun yang baru ini sebagai saksi permohonanku. Biarkan sinar mentari pagi tahun yang baru menjadi saksi kegelisahanku. Biarkan angin ini yang membawa rasa ingin tauku terhadap pengagum rahasiaku itu.
Ku miliki kalimat terakhir , untuk pengagum rahasiaku yang entah siapa dan sedang ada dimana.
“Terima kasih pengagum rahasiaku. Selamat tahun baru”

Selamat Tahun Baru 2014 !!!

Karya : Difa Ameliora Pujayanti
( December, 31 2013 22 : 39 )

Rabu Berduka

Silebu,

Dahiku memanas, tubuh menggigil. Sakitku semakin berasa. Panas dan dingin bercampur tak karuan. Tergurat wajah khawatir di wajah ibu. Tak lain dengan ayah yang sama khawatirnya. Siang panas menambah panasnya tubuh keringku. Aku tiada daya. Untuk sekedar makan,minum,buang air,bahkan untuk berdiri pun aku kesulitan. Kaki ini selalu lemas. Berbaring ditempat tidur, menjadi lumrah kujalani hari-hari panasku.

Cipasung,

“Anakku, aku ingin bertemu dengan Dian dan keluarganya. Suruh mereka kesini”pinta nenekku pelan. “Ya, tapi bagaimana nanti saja ya,Nek”jawab Iwang anak pertamanya.

Silebu,

“Ibu, aku ingin berdiri”ujarku. “Mau apa? Lebih baik berbaring”ujar ibuku lembut. “Capek  rasanya jika berbaring terus. Main keluar boleh ya. Sekedar menghirup udara bebas. Disini terasa sesak” ujarku lemas sambil memelas. “Ya sudah ibu antar. Tapi,kalo butuh apa-apa panggil ibu ya!”. Aku hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah kata pun. “Eh, tapi makan dulu ya. Setelah itu diminum obatnya”ibu mengingatkan sambil tersenyum.

Obat oh obat. Sungguh aku benci ‘benda sesajen’ pemberian dokter itu. Bukan saja dari segi rasanya. Lihat saja gunanya. Bukankah obat itu memang untuk orang-orang sakit. Ya, jika aku menelan benda itu. Sama saja artinya bahwa aku ini orang sakit-sakitan. Aku tak mau dibilang orang sakit. Tapi bagaimana lagi? Allah yang berkehendak. Semoga ini ujian dari-Nya, sehingga derajatku semakin tinggi. Ku sabarkan diri. Pasrah dan jalani.

Do’a selalu kupanjatkan sebelum meminum obat. Berharap kedepannya, benda ini tak akan pernah hadir lagi dan memasuki perut kecilku. Meskipun kemungkinannya kecil, tapi ku sungguh. Kuusahakan agar raga ini senantiasa sehat. Aamiin.

Udara segar ini, oh Tuhan ini nikmat sekali. Hidungku mulai beroperasi. Terasa dingin dan segar melalui rongga hidungku. Kuhirup cepat dan kuhembuskan perlahan-lahan. Paru-paruku mengembang. Kugerak-gerakkan perlahan anggota gerak tubuhku. Suara tulang terdengar. Ini dia yang paling aku benci. Oh Tuhan, lihatlah aku sekarang. Berat badanku menurun, wajahku pucat nan berminyak,mengemis bantuan orangtuaku. Piuh. Lelah menjadi orang sakit itu. Kuingatkan kepada kalian, jangan mau menjadi orang sakit!

Selasa,

Selesai ku shalat isya’, ku rebahkan tubuh keringku ditempat tidur. Eits, sakit bukan alasan untuk tidak melaksanakan shalat. Bedanya kali ini, ku tidur dikamar kedua orangtuaku. Entah mengapa. Hingga malam tiba, sekitar pukul 22.00 malam, menjelang tengah malam tidurku digoyahkan ibuku. Huh, untuk apa pula ibuku membangunkan aku? Tidakkah dia lihat bahwa anaknya ini sedang sakit?

“Bangun teh, kita ke cipasung sekarang. Maaf ibu bangunin malem-malem gini”ujar ibuku. “Mau kemana bu? Cipasung? Mau apa?”tanyaku heran. Baik itu ibu dan ayahku tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Sudahlah, aku tidak peduli. Lagaipula aku benar-benar tidak menginginkan jawaban itu. Yang aku ingin sekarang adalah cepat sampai lalu tidur kembali. Eits, tunggu dulu. Ke Cipasung? Berempat? Tapi keluargaku tidak memiliki mobil. Lalu?

∞∞∞

Ayahku menutup pintu mobil dengan cepat. Lekas ia duduk dikursi mobil depan. Malam ini keluargaku menumpang mobil dari teman ayahku untuk pergi ke Cipasung.

∞∞∞

“Hiks,hiks,hiks”. Ku mendengar isakan tangis dari wanita yang sekarang menyandarkanku,ibuku. Ia sempat mengatakan beberapa kata tentang nenekku,yang merupakan ibu dari ibuku. Jujur, aku masih belum mengerti untuk apa ke Cipasung? Dan kenapa ibuku menangis? Ingin ku bertanya, berharap ibu kan mengeluarkan sepatah dua katanya untuk menjelaskan apa yang terjadi saat ini. Namun, situasi sedang tidak mendukung. Ku memilih untuk membekap mulutku. Dan diam dengan seribu pertanyaan.

∞∞∞

Remang-remang cahaya pantulan kaca mobil ini mengiringi selama perjalanan kami. Sesaat kami sampai di tujuan. Oh, ku baru mengerti apa yang terjadi disini.

Tangan kekar ayah yang menggendongku,terasa lemah seketika ketika melihat istrinya menangis lepas melihat kain putih menyelimuti seseorang. Ibuku, tangisannya pecah. Ia berteriak histeris. Kehisterisannya bahkan sampai mampu melumpuhkan ingatan bahwa aku disini, anaknya, sedang sakit. Ayahku melepaskanku, dan membiarkanku begitu saja. Ku sandarkan tubuh ini, di tembok dingin berlapis cat coklat. Tak ada yang menyadariku disini, sampai pade’ ku menyuruh salah satu sanak saudaraku untuk mengistirahatkanku di kamar. Keluarga besarku tahu, bahwa aku sedang sakit.

∞∞∞

Sampai juga tubuh ini pada kasur empuk ini. Ku menangis, menangis sejadi-jadinya. Sepupuku,mengelus kepalaku lembut berusaha menenangkanku. Sedangkan aku? Aku sama sekali tidak tenang. Saat itu juga aku mengutuk diriku. Bahwa aku telah menghalangi ibuku untuk pertemuan terakhirnya dengan sosok wanita paling berjasa dalam hidupnya. Ku baru mengetahui, bahwa keinginan nenekku adalah mengumpulkan semua anaknya termasuk aku cucu kesayangannya.

“Tenang neng Amel. Udah jangan nangis lagi”ujar sepupuku,Memey. “Teh, gimana Amel bisa tenang? Gimana Amel gak nangis? Amel biang keroknya. Lihat! Gara-gara Amel sakit, ibu gak bisa ketemu nenek yang terkhir kalinya! Amel seharusnya tau diri. Bukan Amel aja yang berharga buat ibu. Sekarang, yang sedang terbaring kaku berbalut kain putih itu, sudah nggak ada! Amel ini memang cucu yang nggak baik. Seharusnya Amel aja yang mengganti posisi nenek sekarang! Nenek nggak bakal datang lagi teh! Ini salah Amel! Ini salah Amel!”teriakku sambil terus mengutuk diriku yang bodoh ini.

Aku! Aku memang bodoh! Kulihat sepupu dan keponakanku berusaha menenangkanku. Aku tak mampu tenang, melihat ibuku terus memeluk nenek sambil menangis tak henti. Mereka menyuruhku untuk tidak terus menyalahkan diri dan berhenti menangis. Tapi ku tak kuasa. Nenek disana, pergi dengan senyuman menghiasi wajahnya. Subhanallah, sungguh ini mulia. Nenekku meninggal disaat tersenyum, tepat di malam pertama bulan ramadhan.

∞∞∞

Tak mungkin keluarga besar Sukarsa ini terus berduka, mengingat ini adalah malam pertama ramadhan. Beberapa bude’ ku menyiapkan santapan untuk sahur. Lantunan ayat suci, ribuan ucapan do’a dan shalat yang mengiringi malam. Menemani kepergian nenekku.Hari ini ku tak bisa puasa, mengingat kondisi tubuhku yang belum meyakinkan. Selamat jalan nenekku……

∞∞∞

Dan, setelah 3 tahun lamanya semenjak peristiwa berduka itu. Baru kali ini kusadari. Tepatnya disaat ku sedang mengerahkan setiap untaian kata dalam cerpen kisah hidup ini. Tidakkah disadari? Nenekku meninggal disaat malam pertama bulan ramadhan. Dan selama ini keluargaku belum pernah sahur bersama. Mukinkah nenekku menginginkan agar anak-anaknya sahur bersama di malam pertama bulan ramadhan, dan dengan peristiwa kepergiannya adalah caranya? Sungguh Allah Maha Mengetahui. Sampai kapanpun jika aku masih tetap aku, takkan kulupakan hari itu,                         . Sungguh, rabu yang berduka.

Karya : Difa Ameliora Pujayanti

My Angel,,, I’m Apologize……

Malam hari yang sunyi,pikiran Hana sedang semrawut, perasaan Hana benar-benar bercampur aduk antara marah,kecewa, risih, menyesal dan sebagainya. Hana tidak menyangka ada orang yang serese itu ngasih peraturan. “Ah, daripada mikirin dia mendingan tidur aja.” Hana pun tertidur lelap, dengan balutan selimut hangat, bantal empuk dan memeluk guling.
Tak seperti biasanya, pagi hari ini Hana tidak seceria yang biasanya. Karena semalam Hana mimpi aneh,”Ya Allah apa maksud dari mimpiku tadi malam? Semoga saja tidak akan terjadi meski aku membenci nya, amin” ucap Hana dalam hati. Langsung Hana mandi , mengenakan seragam kemeja sekolah kemudian sarapan. Ketika sarapan,Hana terus saja memikirkan mimpinya semalam.

”Ya Allah kenapa perasaanku tidak enak? Ya Allah aku mohon, jangan sampai mimpi itu terjadi” ucap Hana dalam hati sambil gelisah. “Sayang, ada apa? Kok sarapan nya gak dihabisin? Nanti belajarnya gak fokus lagi” ujar ibunya Hana. “Gak papa bu,” jawab Hana lirih. Lalu, Hana melanjutkan sarapan nya.
“Kepalaku rasanya mau pecah!Ya Allah kenapa ini? Gak biasanya aku kaya gini, padahal soalnya gampang semua?! Aduh, jangan sampai aku di remedial deh!” ujar Hana dalam hati ketika mengisi soal ulangan harian di kelasnya.
Saat di kelas, Hana ingin cerita pada Lisa tentang mimpi semalam. “Lisa” panggil Hana, “Eh” ucapnya menyesal ,”Kenapa aku panggil dia? Aku kan lagi marahan sama dia?” ujar Hana dalam hati. “Ada apa Hana?” jawab Lisa heran, karena setau dia Hana sedang marah padanya. “Gak jadi!” jawab Hana singkat.
“Dug-dug-dug-dug” suara jantung Hana berdetak dengan cepat. Saat itu, pak guru akan mengumumkan hasil ulangan matematika tadi. Dan ternyata…..Oh tidak!!!, di remedial?!, “Pak, apa bapa gak salah meriksa? Masa ulangan Hana hasilnya kecil sih! Bapak pasti salah nilai!” protes Hana. “Tidak Hana, Bapak sendiri juga kaget kenapa kamu bisa dapat nilai merah. Apa kamu lagi sakit Hana?” jawab pak guru. “Enggak ,Pak” jawab Hana singkat. Hana pun langsung duduk di tempat duduknya. Terlihat sahabatnya, Lisa menampakkan wajah riangnya karena mendapat nilai 100! ”Hana, kamu kenapa? Kok, bisa di remedial sih? Kamu nggak lagi sakit kan? Anak-anak pada melongo semua denger kamu di remed!?” ujarnya. “Diam kamu!” ujar Hana keras. “Hana, kalau kamu ada kesulitan, kenapa gak tanya atau cerita ke aku? Mungkin aku bisa bantu?Apa kamu lagi ada masalah?” jawabnya lembut. “Iyah, aku memang ada masalah karena kamu so so-an perhatian sama aku, mentang-mentang nilai kamu seratus! Aku tambah stres karena itu” sentak Hana ,dan Hana pun berlalu keluar kelas. Sontak, Lisa terkejut mengapa Hana sahabatnya bisa berubah sekasar itu? “Hana…..” ucapnya lirih dalam hati.
Saat istirahat, lagi-lagi Hana bertemu dengan Lisa, dia tetap saja menyapa Hana, walau Hana sedang marah besar padanya. “Assalamu’alaikum ,Hana” ujarnya. “Kumsalam” jawab Hana jutek, dan Hana langsung pergi dari hadapannya. Sebenarnya, Hana ingin sekali menangis, setiap Hana mengingat Lisa dan karena mimpi yang Hana alami semalam juga, tapi dia tahan. “Ya Allah kuatkanlah hamba-Mu ini” bisik Hana pelan.
Selama di kelas, Lisa dan Hana hanya diam tidak ada yang mengajak bicara sedikitpun. Bahkan , Hana pindah tempat duduk yang tadinya dengan Lisa jadi duduk bareng Agnes. “Agnes, aku boleh duduk disini nggak?” tanya Hana. “Oh, iya boleh. Emangnya kenapa kamu pindah tempat duduk, Han?” tanya Agnes. “Gak papa, Nes.” Pada hari itu, kebetulan Tini tidak sekolah karena izin. Jadi,Hana duduk dengan Agnes, dan Lisa duduk sendirian sambil terus memerhatikan Hana yang sangat kesal pada nya.
“Teng teng teng” bel sekolah yang menandakan pulang pun berbunyi. Di kelas, rasa nya seperti di pasar, karena ramai sekali. Beragam suara yang terdengar seperti suara decitan kursi, buku-buku yang dimasukkan ke dalam tas, suara pensil jatuh dan suara siswa-siswi yang mengobrol singkat. Segerombolan anak yang keluar dari kelas, tampak seperti pasukan semut. Disaat itu, Hana menabrak Lisa, tapi Hana hanya diam begitu pula dengan Lisa.
Saat tiba di rumah, belum juga Hana mengganti seragam kemejanya, terdengar suara telpon rumah. “Kring kring kring”, langsung saja Hana angkat. “Halo? Siapa ini?” ucap Hana, “Halo, Hana ini Agnes!” jawabnya. “Oh, kamu Nes. Ada apa?” jawab Hana, “Hana, Lisa kecelakaan!” ucapnya. “Apa? Lisa kecelakaan? Kapan? Sekarang Lisa lagi dimana?” jawab Hana kaget. “Sekarang Lisa lagi di RSUD Kuningan,Han. Kamu harus cepet kesini!” ujarnya. “Iya-iya aku kesana” jawab Hana singkat. Saat itu Hana lupa, bahwa dia sedang marah dan kecewa pada Lisa, mungkin karena perasaan batin seorang sahabat.
“Hana! Aku disini! Cepat !” suara Agnes dari kejauhan. Sesampainya di RSUD,Hana langsung menghampiri Agnes.Mereka pun berlari menuju ruang ICU. Hana terkejut , melihat Lisa terbaring dengan penuh lumuran darah di sekujur kemeja putih biru kotak-kotaknya. “Lisa!” teriak Hana khawatir sambil berlari, tapi Agnes menahan nya.

“Hana, kamu jangan masuk. Dia akan dirawat” ucap Agnes. Hana terus saja memanggil nama Lisa sambil menangis, “Lisa…….Lisa, Lisa,,,,maafin aku….”. Disamping itu Hana melihat ibu dari Lisa terus saja menangis melihat anaknya dalam keadaan seperti itu.
Dua jam kemudian, saat Lisa sudah dipindahkan ke kamar pasien. Dokter pun keluar, dan memberitahu apa yang terjadi. “Dokter, bagaimana dengan keadaan anak saya? Dia baik-baik saja kan,Dok?” tanya ibunya Lisa gelisah. “Dia baik-baik saja,Bu.” Jawab dokter. “Alhamdulillah” ujar Hana senang, begitupun dengan yang lain. “Apa kami boleh melihat Lisa sekarang?” tanya ibunya Lisa kembali. “Silahkan,Bu” jawab dokter.
Saat di dalam, ibunda Lisa langsung memeluk Lisa yang sebenarnya belum sadar dari tabrakan mobil truk tadi. Satu, dua tetes air mata Hana pun jatuh, melihat sahabat yang ia sakiti hatinya terbaring lemah. “Lisa…”ujar Hana lirih sambil menangis. Sampai beberapa saat kemudian, Lisa membuka matanya. Sontak ruangan pun ramai dengan panggilan nama Lisa yang sudah sadar. Semuanya tersenyum gembira.
Di sore harinya, Hana kembali menjenguk Lisa di rumah sakit karena tadi Hana pulang ke rumah. Dan kali ini, Hana ditemani kedua orangtua dan kakaknya. “Lisa, kamu harus sembuh yah, karena aku membawakan sesuatu buat kamu! Semoga kamu suka” ujar Hana paksa.Lisa hanya tersenyum tipis . “Tara!!!! Ini dia buat kamu, spesial buat Lisa sahabatku yang sedang berulang tahun hari ini!” hibur Hana. “Wah, buku! Makasih ya ,Han! Aku suka” jawab senang Lisa. “Bagus kan? Kalo kamu mau baca , kamu harus sembuh dulu yah?!” ucap Hana. Suara adzan maghrib memecah suasana saat itu. “Han, shalat yuk, aku mau kamu jadi imamnya.” ujarnya. “Hah? Aku? Aku gak bisa Lis!”jawab Hana “Udah, cepet sana! Kamu mau aku sembuh kan? Mungkin aja dengan kita shalat berjama’ah, aku bisa sembuh total?” ujarnya sambil menaikkan alisnya yang tebal dan tersenyum.

Selesai shalat, tiba-tiba saja Lisa memberi Hana secarik surat, dan ia melarang Hana untuk membacanya sekarang. “Aaah, rahasiaan mulu!” canda Hana sambil mencubit pipinya. “Han, aku juga punya hadiah buat kamu, tapi kamu harus tutup mata dulu ya!”ujarnya ,”Asiiik, OK!” jawab Hana senang. Kini, Lisa sudah terlihat sangat sehat tidak terlihat wajah pucat sama sekali, dan Hana merasa senang. “Tunggu ya…” ucap Lisa rahasia. Tiba-tiba Hana merasa ada sekantong plastik yang Lisa gantungkan di tangan Hana. “Wah, apaan nih? Koq, ngasih keresek sih Lis?” tanya Hana heran ketika memejamkan mata. Tapi, Lisa tidak meminta Hana untuk membuka mata, lalu Hana mengintip.
Terlihat Lisa sudah terkujur kaku dengan posisi terbaring. Hana memanggilnya,”Lisa, Lisa kamu tidur yah? Nanti dulu dong tidurnya!” pinta Hana, tapi Lisa sama sekali tidak menjawab, Hana pun mulai gelisah sambil terus memanggil namanya. “Doorr!!!” Lisa mengejutkan Hana,”Aduuh, Lisa jangan buat aku kaget dong! Gak lucu tau!” ujar Hana kesal. “Ha ha, kaget yah?!”jawab kepuasan Lisa. “Eh, buka dong kereseknya!” pinta Lisa. “Iye-iye” jawab Hana kesal. Hana merasa terkejut ,ternyata isinya adalah sepasang baju muslimah beserta kerudungnya. “Gimana? Jadi, kapan kamu mau berhijab,Han?” tanya Lisa. Tiba-tiba saja, dua tetes air mata jatuh dari mata Hana. “Loh, kamu kenapa,Han? Kok,nangis sih?” tanya Lisa heran. “Ah? Gak papa ko” jawab Hana lirih,”Pake dong bajunya, dan aku minta sekarang kamu pakai baju itu! Sekarang! Ayo cepet!” paksa Lisa. Hana pun memakai baju itu di kamar mandi.
Setelah Hana mengenakan baju itu, terasa kehangatan dan rasa nyaman,Hana mulai betah memakai baju itu. Dan, ketika Hana keluar untuk menunjukkannya kepada Lisa. Terlihat, Lisa sudah terbaring dengan mata tertutup sambil tersenyum. “Ah, pasti bercanda nih anak!” ujar Hana ngeyel, dan Hana pun menggoyang-goyangkan tubuh Lisa sambil memanggilnya tapi ia tidak menyahut. Hana periksa dadanya, dan betapa terkejutnya ia tidak ada detakan jantung sama sekali! Hana pun memanggil dokter, “Dokter-dokter!” dan dokter pun masuk. Ia, memeriksa Lisa,kemudian menghela nafas. “Saya harap semuanya untuk bersabar!” ujar sang dokter. “Memangnya ada apa, Dok? Jangan bilang yang nggak-nggak ,Dok!” jawab Hana tegas. “Dia telah dipanggil oleh Yang Kuasa” jawab dokter.

Suasana menjadi hening seketika, setelah itu dilanjutkan dengan suara tangisan yang keras. Semua menghampiri Lisa, sambil menangis histeris. “Lisaaaaaaaaa…….!!!!!! Aku mohon jangan tinggalin aku!!!!! Aku udah lakuin apa yang kamu mau, aku sudah berhijab, Lisa!” tangis Hana histeris. Hana pun mulai terasa lemah, perlahan Hana berjalan ke luar. Hana sandarkan tubuhnya di dinding, perlahan mulai terjatuh. Hana membuka, kembali kantong keresek itu dan terlihat ada secarik kertas yang Lisa berikan tadi. Kemudian Hana mulai membaca isinya yaitu,
“Hana sahabatku, aku mengirim surat ini karena aku sayang banget sama kamu. Aku tau apa yang membuat mu marah padaku, mungkin kamu merasa kalau aku ini bawel. Terlalu sering nasehati kamu ini dan itu. Tapi itu semua juga untuk kebaikan kamu, Han! Aku ingin sahabat yang paling aku sayang ini berhijab agar kita bisa menjadi hamba Allah yang menjalin persahabatan yang juga dicintai oleh-Nya. Kalo, kamu pakai kerudung juga kan bisa menyelamatkan kamu! Aku minta maaf, kalau selama ini aku terlalu bawel sama kamu. Tapi, ingat jangan kamu lupain pesan aku ini! Dan, kamu juga gak usah nangis lah karena kepergian aku, ngapain ditangisin? Nanti di surga juga ketemu kok. Asalkan kamu mau berhijab! Ingat, yah! Terus bajunya wajib kamu pakai! OK!”
Satu,dua, tiga, empat, lima hingga selebihnya air mata Hana terus mengalir deras bak sungai yang bercabang menjadi anak sungai. Hana merasa sangat bersalah padanya, Hana pernah memarahinya,padahal itu adalah yang terbaik untuknya. “Ya Allah, apa ini adalah arti dari mimpi yang aku alami semalam? Kalau akan terjadi sesuatu pada Lisa? Kenapa bodoh sekali aku ini ,kenapa dulu aku mengabaikan nasihatnya? Seharusnya , aku sudah harus berhijab sama sepertinya. Dasar Hana kamu memang bodoh!” ujar Hana di dalam hati,sambil membenturkan kepalanya ke dinding dengan keras. Tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya kejadian di suatu hari, dimana ia pernah melontarkan perkataan secara kasar kepada Lisa dulu.
—“Hana, menurut aku kamu harus berhijab seperti aku ini. Aku takut nanti kamu menyesal sebelum ajal menjemput kamu. Tempat untuk wanita yang tidak berhijab karena Allah itu di neraka loh! Hukumannya pun berat,kamu akan digantung dengan tumpuan badan oleh rambut kamu sendiri! Nanti kamu menyesal lagi!? Aku udah bilang ini dari dulu, belum kamu konfir juga?” tanya Lisa. “Cukup! Cukup Lisa! Aku capek Lis! Capek!, kamu bisa sabar dikit napa? Aku bosen ngedengernya! Kamu ini sombong banget sih, mentang-mentang udah berhijab nyuruh aku inilah , itulah. Kamu nge-do’ain aku supaya cepet mati dan masuk neraka? Kalo gitu, kenapa aku gak mati aja sekarang biar kamu puas? (Puas? Puas? Puas?)” —
Perkataan itu terus saja mengiang-ngiang di dalam otak Hana. “Ya Allah, aku belum minta maaf ke Lisa. Kenapa Engkau ambil dia secepat ini? Dia wanita yang sholihah, dia adalah malaikat yang menyelamatkanku disaat aku khilaf. Ukhti, aku berjanji akan mengenakan hijab selamanya sampai aku mati nanti hanya karena Allah. Aku akan berubah menjadi lebih baik! Kita pasti akan bertemu di surga nanti” ujar Hana dalam hati yang melihat Lisa dari jendela lorong ,sambil meneteskan air mata dan tersenyum.

Karya : Difa Ameliora Pujayanti

Mata Satuku

“Aku berangkat, bu! Assalamu’alaikum!” saut remaja laki-laki dari ruang tamu.
“Iya, nak! Hati-hati ya. Wa’alaikumussalam” jawab sang bunda tersenyum.
Remaja itu pun segera berangkat ke sekolahnya. Entah, atas motivasi apa. Remaja laki-laki itu berlari secepatnya, menjauh dari rumah mungilnya. Tiba-tiba saja, bundanya yang sedang membuat nasi goreng untuk sarapan, teringat untuk apa ia membuat ini. Ya, nasi goreng ini untuk anaknya. “Astaghfirullahaladzim! Rudi belum sarapan!” ingatnya. “Rudi! Rudi!” teriak bunda. “Kamu belum sarapan, ini bekalny…” ia pun terhenti saat melihat anaknya berlari terbirit-birit. “Dia sudah pergi? Kenapa berlari? Hm, sepertinya dia sangat bersemangat sekolah. Ya Allah, mudahkanlah anakku Rudi untuk menggapai cita-citanya. Aamiin” ucap sang bunda dalam hati dengan penuh keikhlasan, disertai dengan senyuman di wajahnya.

Bocah itu menghembuskan nafasnya. Ia kelelahan. “Huh, akhirnya bisa jauh juga dari nenek sihir itu. Aku gak mau makan sarapan buatan dia. Gak enak!” keluh Rudi. Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju sekolah dengan jalan dalam tempo yang biasa, tidak seperti tadi sambil berlari. Sesampainya di sekolah, ia pun langsung bergegas ke warung tanpa menaruh tasnya terlebih dahulu di kelas. Ia membeli jajanan untuk sarapan. “Bi, aku beli ini ya. Berapa?” tanya Rudi pada bibi, si penjual. “Itu semuanya 3000” jawab si bibi. “Oh, ini bi uangnya. Pas 3000. Makasih” ujar Rudi, bibi itu pun menerima uang dan Rudi bergegas ke kelas untuk sarapan.

SMA Negeri Tanjung Harapan adalah sekolah dimana Rudi menimba ilmu. Rudi bisa dikategorikan sebagai anak berprestasi di kelas bahkan di sekolahnya. Sekarang ini, ia sudah kelas 12. Ya, kelas 12 sudah mulai disibukkan dengan pemantapan untuk menghadapi ujian nasional. Rudi menaruh tasnya di kursi tempat duduknya. Ia membuka bungkusan nasi goreng itu dan memakannya dengan lahap, tanpa berdo’a terlebih dahulu.
“Eh, Rudi kamu sarapan di sekolah lagi?” tanya Anton teman dekatnya.
“Iya nih!” jawab Rudi.
“Emangnya, bundamu gak masak?”
“Enggak! Tega banget ya bundaku?! Saking jahatnya, sampai-sampai enggak masak sarapan buat anaknya yang sebentar lagi mau ujian nasional. Huft” kesal Rudi dengan penuh dusta.

“Ya ampun. Ya udah deh, kalo gitu mulai sekarang aku juga bakal sarapan di sekolah temenin kamu. Biar nanti, aku yang bayar. Aku gak tega lihat kamu kaya gini, Di!” simpati Anton. Rudi tersenyum puas mendengar ucapan Anton yang terlihat sangat tulus mengatakannya. Ya, Rudi telah berbohong. Padahal, di rumah sang bunda sudah membuatkan sarapan untuknya seorang. “Haha, akhirnya” ucapnya dalam hati yang penuh dengan kepuasan. Anton, dia adalah salah satu anak konglomerat yang rendah hati di desanya. Kepribadiannya yang baik terhadap sesama, membuatnya banyak disenangi orang. Bukan saja teman-temannya di sekolah, namun di lingkup masyarakat pula. Dan Rudi, memanfaatkan itu dengan rencana yang sangat licik.



Seusai jam sekolah selesai, Rudi hendak pulang. Namun, ketika ia melihat Anton yang juga akan pulang dengan menaiki motor besar, ia menghampiri Anton.
“Hai, Anton. Mau pulang?” sapa Rudi.
“Eh, Rudi. Iya. Kamu juga kan?” jawab Anton santun.
“Iya. Tapi aku mau ngomong sesuatu sama kamu” memulai pembicaraan.
“Apa? Silahkan”
“Gini, kita kan udah kelas 12 jadi harus rajin belajar bukan?” tanya Rudi.
“Iya” Anton mengangguk.
“Nah, aku pengen ngajak kamu buat belajar bareng. Tapi tempatnya di rumah kamu” Rudi memperjelas.
“Oh, gitu. Ayo aja! Tapi, kenapa harus di rumahku?” tanya Anton heran.
“Ya, kamu tau. Rumah kamu kan bagus. Pasti nyaman belajarnya. Gimana? Boleh kan?”
“Ehm, boleh aja sih. Memangnya kita mau belajar bab yang mana?”
“Pelajaran bahasa indonesia mau nya, bab 1 yang kelas 10”
“Ayo. Tapi apa kamu enggak pulang dulu?”
“Mau ngapain?”
“Ya izin lah ke bundamu. Bab yang kita pelajari kan banyak. Pasti sampai malam”
“Oh soal itu, kamu gak usah khawatir. Aku….. aku udah bilang kok ke bunda soal ini. Dia gak akan khawatir” ujar Rudi yang merasa kaget ditanya seperti itu. Rudi gugup menjawabnya, dan ia pun menjawabnya dengan berbohong, lagi.
“Oh ya sudah kalau begitu. Cepat naik!”
“Iya”



Salam kehangatan menyelimuti senja menjelang malam itu. Lantunan shalawat menyertainya. Telapak kaki pun menyentuh dinginnya lantai masjid. Seorang wanita, mata nya menjajah hamparan alas di tepi masjid. Dan akhirnya ia menemukannya dan segera memakainya. Ia pun pulang dengan hati yang was-was. Anaknya Rudi, sampai saat ini belum juga pulang. Ia mempercepat jalannya.
Betapa kecewanya ia saat melihat keadaan rumahnya yang belum juga dihuni oleh anaknya. Sepi. Itulah sensasinya. Anakku belum pulang? Kalimat itulah yang memupuki hatinya. Meskipun terlihat sederhana, hanya tiga kata. Tetapi, setiap katanya mengandung unsur mendalam. Khawatir? Tentu saja! Ibu mana yang tidak khawatir mengetahui anaknya belum jua pulang disaat matahari pun sudah pulang ke rumahnya untuk istirahat melepas lelah. Bersiap untuk bertugas esok menyinari dunia. Sedangkan anaknya sendiri yang kini bernasib sebaliknya. Ia pun menengok ke luar. Berharap anaknya sedang berjalan menuju rumah. Namun, harapannya meleset. Tak ada satu pun raga diluar rumahnya saat itu. Diluar tengah hujan, awalnya hanya sebuah rintikan. Namun berlanjut menjadi sebuah hujan besar. Biasanya, orang-orang berusaha untuk menghangatkan diri kala hujan datang. Bahkan, sebagian darinya langsung tertidur. Namun, berbeda dengan wanita ini.
“Ya Allah, kemana anakku? Lindungi dia ya Allah. Lindungi dia” ucapnya lirih. Ia terus menerus berdo’a berharap Allah kan mengabulkan do’anya untuk senantiasa melindungi anak semata wayangnya di tengah derasnya hujan.



“Assalamu’alaikum! Bun! Bunda!” teriak Rudi dari luar. Bundanya yang kala itu tengah tidur lelap karena bergadang semalaman, terhentak kaget. Kagetnya kali ini, dibarengi dengan rasa kegembiraan. Anaknya pulang dengan keadaan yang baik-baik saja. “Rudi?” lirihnya. Ia pun langsung membukakan pintu.
“Rudi, kamu kemana semalam nak? Ibu mengkhawatirkanmu!” tanya bunda sangat khawatir.
“Aku habis belajar kelompok bareng Anton bun” jawab Rudi datar memasuki kamar.
“Alhamdulillah. Tapi kenapa kamu gak pamit dulu ke bunda? Maksudnya supaya bunda gak khawatir” ujar bunda halus.
“Hah? Jadi bunda tidur di kursi tamu cuman nungguin aku? Bunda berlebihan banget sih! Aku bukan anak nakal bun! Bunda kan tau Anton itu anak baik. Ya aku juga baiklah! Gimana si?” angkuh Rudi sambil menyiapkan buku pelajaran.
“Tapi kan lebih baik kalo kamu izin dulu ke ibu. Apa susahnya?”. Rudi tidak menghiraukan ucapan bundanya, ia pun mengganti bajunya.
“Alah, udah deh. Harusnya bunda bersyukur dong aku udah pulang, jangan nasehatin aku mulu. Udah deh, aku mau berangkat” sentak Rudi sambil menggendong ransel sekolahnya.
“Loh, mau berangkat lagi? Kamu kan bar”
“Bunda! Hari ini aku sekolah. Ini hari kamis bun. Bunda lupa? Atau amnesia? Gini ya, punya orangtua yang lupa umur” sentak Rudi.
“Astaghfirullahaladzim. Ya sudah, maafkan bunda. Bunda rindu sama kamu. Kamu tunggu disini! Bunda akan masak dulu buat kamu sarapan”
“Gak usah bun. Aku udah sarapan dan mandi dirumah Anton. Aku langsung berangkat aja. Kasian Anton udah nunggu”
“Loh, kamu sama Anton? Antonnya mana?”
“Ada di mobil. Emangnya kenapa? Bunda mau Anton kesini? Gak! Rudi enggak akan melancarkan itu. Mending kalo rumah kita bagus. Lah ini? Udahlah, Rudi berangkat!”
“Dan…. ibu gak usah lebay ngekhawatirin Rudi. Kalo Rudi belum pulang atau bahkan gak pulang, itu artinya Rudi ada di rumah Anton, belajar bareng! Ngerti?! Oh ya, bunda jangan ke sekolah lagi kaya kemarin! Rudi malu tau! Rudi gak mau dibully sama temen-temen Rudi, gara-gara bunda cuman punya mata satu! Ngerti?!! Assalamu’alaikum!” ujar Rudi sok bijak.
“Wa’alaikumus…”
“Brug!” Rudi membanting pintu dengan sangat keras.
Ya Allah haruskah anakku seperti itu? Ujar bunda dalam hati. “Astaghfirullah, maafkan aku. Lebih baik sekarang aku beres-beres rumah”

10 tahun kemudian…..

“Daddy, ada tamu diluar” ucap imut seorang anak laki-laki.
“Iya sayang. Siapa?” ujar sang ayah lembut. Dia pun membukakan pintu, dan betapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang berkunjung ke rumah keluarga kecilnya di Singapura.
“Kau?!” sentaknya.
Ya Allah, jadi ini cucuku? Ujar wanita paruh baya dalam hati yang menjadi tamu di rumah pria yang dipanggil “daddy” oleh anaknya.
Karena penampilannya yang kumuh dan wajahnya pun terlihat pucat, anak laki-laki pria itu mencelanya, “Daddy itu siapa? Kenapa jelek sekali. Hahaha”
“Hem, itu…. hey, siapa kau? Kenapa kau kesini? Tak ada sumbangan! Pergi!” sentak pria itu, yang kedua kalinya.
“Apa? Ehm, maaf saya salah alamat” ujar lirih wanita paruh baya itu dengan menundukkan kepalanya.
“Cepat pergi! Brug” sentak pria itu,lagi sambil membanting pintu dengan keras. Saking kerasnya, sampai-sampai membuat wanita paruh baya itu menaikkan bahunya, dan membesar matanya karena terkejut. Ia pun berlalu.

“Istriku,aku ingin pergi”
“Mau kemana?”
“Ke Indonesia”
“Indonesia? Untuk apa? Kau kan tak punya sanak keluarga disana?”
“Ada acara reuni di SMA ku dulu”
“Oh ya sudah, berapa lama?”
“Sekitar 2 hari. Bagaimana boleh kan?”
“Silahkan saja”

Acara reuni kala itu, sangatlah berkesan. Banyak dari lulusan angkatan Rudi yang menjadi orang-orang sukses. Mereka melepas rasa rindu kala itu. Saling bersalaman, bahkan tak segan untuk saling mengobrol.
“Sampai jumpa lagi ya! Makin sukses! Semoga bisa bertemu lagi!” ujar Anton, teman dekat Rudi yang kini menjadi seorang walikota.
“Ya, kau juga! Aamiin” sahut Rudi senang. Lalu, acara reuni itu pun selesai. Dan masing-masing dari mereka pulang. Tak terkecuali Rudi. Tetapi, entah atas alasan apa. Tiba-tiba saja ia ingin berkunjung ke rumahnya saat 10 tahun lalu.
Rudi, pria yang kini dewasa itu pun memasuki salah satu daerah kumuh, tempatnya ia tinggal dulu. Matanya tertuju pada sebuah rumah kecil,berselimut bilik dan atapnya yang terlihat sedikit lagi akan rubuh. Anak-anak kecil disekitarnya melihat Rudi dengan mulut yang sedikit menganga. Ya, Rudi mengenakan jas hitam mahal, sedangkan mereka hanya berpakaian sederhana yang kumuh.
Tibanya Rudi di beranda rumah itu, ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah tersebut. Meskipun ada perasaan jijik, karena lingkungan disekitarnya pun kotor.
“Assalamu’alaikum! Permisi. Kenapa tidak ada yang jawab?” heran Rudi. Lalu ada seorang ibu lewat. Rudi menatapnya dan hendak bertanya. Ibu itu pun memandangi Rudi dengan tatapan aneh, karena gaya nya yang benar-benar orang kota. “Ibu, permisi rumah ini masih ditempati kan?” tanya Rudi.
“Oh, rumah ini? Rumah bu Ratna? Rumah ini sudah kosong” jawab ibu itu.
“Memang bu Ratna kemana?”
“Dia sudah meninggal”. Deg! Jantung Rudi serasa berhenti berdetak.
“Apa? Meninggal? Kapan?”
“Sekitar 2 minggu yang lalu. Memangnya bapak siapa?”. Menyadari kehadirannya tidak dinggap. Ibu itu pun mengejutkan Rudi, “Pak?”
“Oh ya? Saya siapa? Enggak, sekedar lihat-lihat saja. Kalau boleh tau dimana bu Ratna dikebumikan?”
“Dekat kok. Bapak jalan lurus aja, belok kanan. Nah, nanti disana ada petunjuk jalan menuju makam” ujar ibu tersebut, sambil mengarahkan tangannya mengikuti arah jalan.
“Oh gitu. Terima kasih bu” ujar Rudi ramah.



Rudi, setibanya ia di pemakaman, setiap sudut matanya terus mencari nama “Ratna” bundanya. Dan, pada akhirnya ia temukan nama tersebut. Namanya terukir sederhana, di kasarnya struktur nisan. Terlihat ada beberapa bunga yang menyelimuti tumpukan tanah tersebut. Ada rumput yang berdiri disana, hijau. Rudi menggenggam segenggam tanah lembab, lalu menjalar menyentuh nisan tersebut, dingin. Sudut matanya, mengeluarkan sedikit air mata.
“Bunda? Jadi ini rumah bunda yang sekarang? Bunda….. bunda benar-benar meninggalkan Rudi? Kenapa bunda tega?” keluh Rudi menatap nama “Ratna” di nisan.
“Bunda!!!!! Maafkan Rudi bunda. Rudi udah jadi anak yang durhaka. Maafkan atas kekeliruan Rudi. Rudi enggak memperdulikan bunda dulu. Bunda!!!!! Banguun, Rudi janji kalo bunda bangun, Rudi akan jadi anak yang baik. Seharusnya Rudi mendengarkan apa kata bunda. Rudi akan shalat lagi, Rudi akan puasa, belajar ngaji dan membayar zakat. Rudi akan naik haji untuk bunda. Rudi tau, itu impian bunda dari dulu. Bundaaa!!!!!” jerit Rudi di tengah senyapnya pemakaman. Suaranya menggema, ia mengeluaran segala kesahnya. Tak ada yang tak ia ucapkan. Semuanya berasal dari sanubarinya.

Ia buka pintu. Terdengar decitan engsel yang sudah tua. Ia lihat ke setiap sudut rumah tersebut. “Ya Allah, rumah ini tempatku berteduh dari teriknya matahari dan dari dinginnya hujan. Dan bunda, almarhumahlah yang menyelimutiku dengan cinta dan kasih sayangnya” ucapnya dalam hati. Bundaaaaa….. ia menjerit dalam hati, tak ingin membuat kegaduhan di tengah ramainya pemukiman. Lalu, ia pun melihat sepucuk surat yang tersimpan di meja. “Apa ini? Surat?”. Rudi membuka surat tersebut, kemudian membacanya. “Tulisan ini….” ya, ini tulisan bundanya. Isi surat itu adalah…..
Untuk Rudi anak semata wayangku…..
Bunda membuat surat ini, karena bunda tau Allah akan mengirim malaikat mautnya untuk menjemput bunda. Bunda tau Allah pasti akan mengabulkan permintaan bunda, yaitu bunda ingin kamu membaca surat ini dan menengok bunda di rumah bunda yang baru. Rudi, saat kemarin bunda ke Singapura bunda senang sekali bisa melihat cucu bunda. Anakmu dia tampan setampan dirimu. Bunda lihat ada lambang salib di depan pintu rumahmu. Apa kamu sudah pindah keyakinan sekarang? Astaghfirullah, bunda merasa rugi. Bunda merasa menjadi orangtua paling tak berguna. Karena tak mampu menjadi orang kaya raya seperti yang kamu mau, sampai-sampai kamu pindah keyakinan untuk merubah nasib.
Rudi, istrimu seorang kristiani. Terserahmu, apa kau mau tetap di agama lahirmu atau tetap pada agamamu sekarang. Jika kamu memilih menjadi seorang muslim kembali, jangan ceraikan istrimu. Ajaklah dia untuk memeluk agama islam pula. Jika memang sudah tidak mau, keputusan ada di tanganmu. Kau sudah dewasa.
Oh iya, Rudi. Kamu gak usah khawatir tentang kedatangan bunda ke Singapura. Bunda tidak mencuri uang dari siapapun. Bunda sengaja menjual kalung emas dan televisi kita supaya bisa bertemu denganmu di Singapura. Rudi, kamu tau? Waktu itu adalah kali pertama bunda naik pesawat. Rasanya enak sekali. Dan, bunda rasa saat ibu meninggal pun pasti rasanya seperti naik pesawat. Kamu tenang aja, ibu masih menyisakan cincin pemberian almarhum ayahmu.
Rudi, bunda ingin memberitau sesuatu padamu. Bunda minta maaf, jika selama ini mata satu bunda mengganggu kehidupan kamu. Mata bunda masihlah dua saat 23 tahun yang lalu. Sampai suatu saat ada seorang anak laki-laki sedang bermain di kebun, lalu ia terjatuh dan kedua matanya tertusuk ranting. Sehingga, dokter menyarankan di operasi. Dan, bunda merelakan mata bunda yang sebelah kiri untuk mendonorkannya pada anak laki-laki itu. Sedangkan suami bunda merelakan mata kanannya. Kami tak ingin anak laki-laki yang tampan itu menikmati dunia nya dengan kegelapan. Dan, apa kamu tau siapa anak laki-laki itu? Dia adalah kamu, nak. Kamu Rudi anak bunda.
Isi surat itu, benar-benar menyentuhnya. Jika diibaratkan, bagai ribuan duri yang terkandung di dalam jantungmu. Rudi termenung, ia menunduk, menangis. Ia memegangi kedua matanya. Tak segan ia mengeluarkan sebanyak-banyaknya air mata miliknya, sekedar menangisi kekhilafannya. Otaknya, memutar semua kejadian di masa lalunya. Tak ada yang indah yang ia bayangkan. Entah mengapa, otaknya hanya memutar memori dimana kejadian saat ia membentak bundanya, mengacuhkannya. Bahkan, sudah tak menganggapnya sebagai ibu lagi. Ia bangga menjadi seorang yatim piatu dibanding harus memiliki orang tua yang sama-sama hanya memiliki mata satu. Sungguh, biadabnya ia. Rudi menengadahkan kepalanya, jika kalian lihat. Matanya berwarna merah, bengkak dan pipinya dihujani tangisan. “Bunda? Ya Allah jahatnya aku” hanya itulah yang bisa diucapkan. Rudi merasa dia bukanlah manusia, tega menyakiti seorang wanita yang lemah lembut. Bahkan, jika harus memilih mematuhi presiden atau ibu sendiri. Tentu, bagi anak yang baik ia akan lebih memilih mematuhi ibunya. Tergantung jika ibunya pun seorang ibu yang baik.
Tak ada yang dapat dilakukan kini, Rudi hanya mampu diam. Kecuali, ia harus memenuhi janji yang ia ucapkan saat di depan makam bunda nya tadi.
Penyesalan memang selalu datang di akhir, percayalah. Jika penyesalan datang di awal, semua manusia akan menjadi penghuni surga, baik itu surga dunia dan akhirat. Tidakkah kau berpikir? Tanggal 22 Desember, di Indonesia adalah Hari Ibu Nasional. Apa yang kau lakukan untuk ibumu? Orangtuamu? Mulailah perbaiki pribadi kita, surga ada di bawah telapak kaki ibu bukanlah sekedar pribahasa keindahan atau bukanlah pepatah lampau semata. Berbaktilah pada ibumu, di akhirat nanti kau bisa selamatkan ibumu dan sebaliknya. Tentu hanya untuk manusia yang baik saja.

Selamat Hari Ibu…..
Karya : Difa Ameliora Pujayanti

WOW…UANG PENGEMIS

Image

Pantauan Liputan6.com, Walang dan Sa’aran kompak mengenakan kaos hijau di Panti Sosial Bina Insan Bandung Daya, Jalan Raya Binaan Marga no 48, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (28/11/2013).

Sa’aran duduk di atas kursi roda. Sementara Walang masih terlihat bugar. Dengan rambut yang semua sudah memutih, keduanya duduk di depan meja yang di atasnya terdapat gepokan uang-uang hasil mengemis.

Uang-uang hasil mengemis itu dalam berbagai pecahan. Dari mulai pecahan Rp 1.000 sampai Rp 50.000. Semua sudah dirapihkan petugas. Diikat dan dikelompokkan berdasarkan pecahannya.

Keduanya terjaring razia petugas saat berada di bawah jalan layang Pancoran, Jakarta Selatan, pada Selasa 26 November. Dua pria tua ini masih memiliki hubungan keluarga.

“Iya Walang dan Sa’aran itu satu kampung dan kerabat dekat. Rumahnya juga berdekatan hanya beberapa meter saja,” kata Kepala Seksi Rehabilitasi Dinas Sosial Jakarta Selatan Miftahul Huda, saat dihubungi Liputan6.com, kemarin. (Ism/Mut)

SMP 2 MANDIRANCAN TERUS BERBENAH DIRI

Foto-0104Foto-0109Foto-0107Foto-0007

Foto-0112Foto-0106Foto-0111
Foto-0108

KE—-UTAMA—AN BERBAKTI PADA ORANG TUA

images3Kasih kedua orang tua tak terkira. Berkat perantara jasa merekalah kehidupan di muka bumi ini bisa berjalan sebagaimana mestinya. Ada segudang alasan mengapa keduanya pantas dimuliakan.

Birrul walidain, berbakti kepada kedua orang tua, menurut dosen Fakultas Studi Islam Universitas Juanda Bogor Dr Amin Mahruddin, adalah perintah Allah SWT. Ini ditegaskan dalam deretan ayat dan hadis. Selama ketaatan itu dalam hal kebajikan dan bukan maksiat, wajib menghormatinya.

“Sekalipun keduanya non-Muslim, bahkan musyrik,” tuturnya. Ingat, wasiat seorang bijak, Luqman. Dalam Surah Lukman ayat 14, ia berpesan agar menaati keduanya. “Dosa besar jika mendurhakai mereka,” Lukman menyebut.

Budi orang tua untuk anak tak berpamrih. Karenanya, jasa-saja mereka sangat luar biasa. Ia menyebutkan kisah sahabat Rasulullah SAW yang menggendong ibunya ke manapun, di luar waktu shalat atau ke kamar mandi. Tulang punggung sahabat itu sampai terluka. Ketika hidup, itu adalah bentuk pengabdian. Namun, Rasul menegaskan, pengorbanan itu tak seberapa dibandingkan jasa mereka.

Ia mengungkapkan, ada beberapa bentuk birrul walidain selama keduanya masih hidup. Pertama, dalam bentuk akal pikiran. Maksudnya, kata Ustaz Amin, jika orang tua meminta anaknya menyelesaikan suatu masalah, anak harus membantunya. Kedua, berbakti dalam bentuk tenaga, yaitu membantu, melayani, merawat orang tua. Sedangkan, bentuk finansial dengan mencukupi segala kebutuhannya.

Ada banyak faktor yang membuat air susu orang tua dibalas anaknya dengan tuba. Menurut Amin, di antaranya ialah pengaruh budaya Barat. Merekaimages1 menganggap orang tua sebagai beban, karena itu dititipkan di panti jompo. Islam tidak memperkenankan hal itu sehingga sanksi bagi pelakunya sangat berat. Ancamannya, Neraka Jahanam. “Bilang ‘uf’ saja dilarang, apalagi menelantarkan,” ujarnya berkilah.

Sejumlah tayangan di televisi, seperti sinetron yang kurang edukatif, disebut Amin, ikut andil mengikis empati anak kepada kedua orang tua. Perhatikan saja tayangan di sinteron, ada anak memaki ibunya, melawan, berbicara tidak ada tata karma. Contoh buruk itu mengundang anak-anak untuk mempraktikkannya.

Bedakan, lanjutnya, dengan kondisi dan suasana pendidikan di pesantren. Suasana pesantren mengajarkan pentingnya bertata karma. Untuk itulah, ia berpandangan salah satu upaya untuk mentradisikan berbakti ialah dengan mengarahkan anak ke pondok pesantren. Jika enggan memasukkan anaknya belajar di pesantren, ia meminta orang tua mendidik dan melakukan pengawasan ketat. Perhatikan tontonan, teman bergaul, dan segalanya. “Paling utama perkuat institusi keluarga,” paparnya.

Menurut Ustaz Mohay Attaly SAg, perintah berbakti terhadap kedua orang tua berada di posisi yang krusial. Ada di urutan ketiga menyusul amar menaati Allah dan Rasul-Nya. Jika orang tua jahat, tetap hormati selama tidak menyuruh maksiat. “Tolaklah dengan halus,” katanya.

Berbakti kepada orang tua merupakan amalan yang tidak ada bandingnya. Anak yang rajin shalat, puasa, pulang-pergi umrah dan berhaji, tapi satu jengkal saja orang tuanya tidak ridha, surga itu tertutup. ”Ridha Allah terletak pada ridha orang tua,” ujarnya. Maka, mintalah ridha keduanya agar hidup tenang dan jangan membuat mereka murka.

images2Ia menyebutkan kisah, pada zaman Rasul, ada seorang ayah mencuri harta anaknya. Kasus ini dilaporkan kepada Rasul. Nabi menegaskan bahwa sekalipun harta itu milik anak, hakikatnya ada hak orang tua di sana. Karenanya, anak tak boleh sombong dan lupa diri.

Ia mengungkapkan, cara berbakti kepada orang tua bisa dilakukan secara lahir. Seperti dengan mengikuti segala nasihat baik, membuat hati mereka senang, dan berkata sopan. Dengan cara batin, lanjut Ustaz Mohay, setiap saat selalu mendoakan mereka. Karena bakti anak kepada orang tua tidak sebatas ketika mereka masih hidup, tapi selamanya.

Ia menambahkan, upaya pembiasaan berbakti itu bisa dilakukan dengan penerapan pendidikan Islam dalam keluarga. Ajarkan agama sejak dini. Berikan contoh yang baik. Tunjukkan bakti Anda kepada kedua orang tua. Niscaya, buah hati Anda akan berbakti dan melakukan kebaikan yang sama. “Sebelum terlambat, tanamkan agama sekarang di keluarga,” katanya.

SUMBER: REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Susie Evidia Y

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.